Kebersihan

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

KEBERSIHAN sebagian daripada iman. Mestinya sebagai insan beriman, kita cinta kebersihan. Karena disamping sehat, bersih juga menumbuhkan keindahan. 

Dulu ketika masih kecil, saya terkesan dengan tetangga yang rumahnya berlantai tanah. Berdinding gedek. Namun bersih. 

Apa yang dilakukan suporter Jepang ketika meninggalkan Stadion Gelora Bung Karno setelah Jepang menang 4-0 dari Indonesia? Sambil pulang mereka membersihkan sampah, memunguti botol minuman yang berserakan untuk dimasukkan ke tempat sampah. 

Begitu juga di Piala Dunia Qatar 2022. Menang melawan Jerman dan Spanyol, tapi kalah lawan Kroasia. Para pemain segera mengemasi barang dan membersihkan kamar ganti. Prinsip kuat bangsa Jepang adalah keadaan harus lebih bersih ketika mereka pergi dibandingkan saat mereka datang. Prinsip lain yang membuat kagum adalah: “Anda datang terlambat, jika anda datang tepat waktu”.

Ketika kami mendarat di Tokyo, skedul bertemu Walikota Tokyo hanya lima menit. Bagaimana caranya. Dari bandara kami naik kereta api yang langsung menembus gedung walikota. Turun kami diminta berbaris. Jumlah kami yang mendekati 300 orang perlu waktu. 

Setelah rapi, Walikota Tokyo keluar. Dengan memegang gelas untuk bersulang dengan pimpinan rombongan kami. Lantas berucap : “Welcome to Tokyo” membungkuk dan masuk kembali. Waktu dikelola dengan baik. 

Di keramaian saya melihat sendiri bagaimana seorang pria perlente. Turun dari mobil memungut sampah kertas kecil. Membawanya ke dalam mobil. Ini contoh yang mentakjubkan. 

Ketika berada di restoran, seorang tak sengaja menumpahkan minuman. Sebetulnya bisa minta pelayan membersihkannya. Namun tidak. Seorang nona anggota keluarga berjalan mengambil lap untuk membersihkannya. Setelah selesai baru seluruh keluarga melanjutkan santap siangnya. 

CCTV dimana-mana. Jika ada pelanggaran dan ketidaksesuaian. Akan disiarkan melalui saluran media. Jika siswa akan diteruskan ke sekolahnya. Jika pegawai diteruskan ke kantornya. 

Sekolah makan siang gratis. Antar jemput gratis pula. Ada bus sekolah yang hanya menjemput  3 sampai 5 orang siswa saja dari satu kawasan. 

Mobil-mobil harganya terjangkau. Sama dengan Indonesia. Avanza, Alphard  dan lainnya. Sama bentuknya. Hanya bahannya jauh lebih berkualitas. Aspal jalan diteraso, agar anti slip. 

Sopir bus pariwisata tidak meninggalkan bus saat rombongan melakukan kegiatan. Andai pun meninggalkan bus untuk ke toilet. Ijin ke kantor pusat pemantau. 

Mereka berpakaian necis , jas berdasi. Lebih keren dari penumpang dari Indonesia yang mereka angkut.

Sebelum berangkat. Membungkuk memberi hormat. Lantas bus pun berjalan melewati jalan tol yang bertumpuk-tumpuk. Terowongan yang saking banyaknya diberi nomor.

Di Jepang tidak ada kampung Arab, Pecinan, kampung India. Karena ijin menetap maksimal 3 tahun. Sebelum masuk Jepang, pihak imigrasi sudah merekam sepuluh sidik jari tangan. Kornea mata. Tiga tahun kemudian mereka diminta keluar Jepang. 

Bandingkan Bali, sampai ada kampung Rusia, karena mereka menetap dalam kurun waktu yang lama. Dan dengan jumlah yang mendekati 50 ribu orang. 

Walau Jepang produsen barang konsumen yang menggunakan tegangan 220 Volt/ 50 Hz. Di Jepang justru menggunakan 60 Hz. Sehingga semua informasi yang masuk ke Jepang akan tersaring ketat. Masyarakat Jepang tidak bisa mengakses info luar negeri tanpa ijin. 

Film barat, China, India betul-betul terseleksi  ketat. Diganti dengan film Jepang yang justru mendunia seperti Oshin dan kemudian Sinchan. Juga film seri Assasin sangat ikonik. 

Jepang negara super power, bukan dengan senjata. Tapi ekonomi. Kaisar Jepang Akihito adalah kaisar yang ke-115. Jauh lebih dulu eksis dibanding Inggris. Raja Charles III adalah Raja Inggris yang ke-40. Jika kalah perang saja, Jepang masih kokoh. Bagaimana pula jika Jepang menang Perang Dunia Kedua ? []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *