Milad Ke-108 ‘Aisyiyah di Buleleng Gemakan Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Thayyibah

SuaraMu Buleleng – Puncak Milad ke-108 ‘Aisyiyah di Buleleng digelar di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal Singaraja, Ahad (13/7/2025). Pada kesempatan tersebut kembali digemakan ketahanan pangan berbasis desa qaryah thayyibah.

Acara yang dirangkai dengan Milad ke-94 Nasyiatul ‘Aisyiyah dihadiri Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, dr. Rizani, M.Ked., Sekretaris PD Muhammadiyah Buleleng, Sudarmo, Ketua Majelis Tarjih, Tabligh dan Tajdid PD Muhammadiyah Buleleng, Bakhtiar, para pimpinan ‘Aisyiyah Buleleng, pimpinan Nasyiatul ‘Aisyiyah Buleleng, PD Pemuda Muhammadiyah Buleleng, IMM, IPM, serta pimpinan ormas Islam di Buleleng.

Dalam sambutannya, Ketua PD ‘Aisyiyah Buleleng, Dra. H. Supartini, membacakan pidato milad Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., yang berjudul “Memperkokoh Ketahanan Pangan Berbasis Desa Qaryah Thayyibah Menuju Ketahanan Nasional”.

Dikatakan, ketahanan pangan dan ketersediaan pangan di Indonesia masih tergolong rendah
dibandingkan dengan negara lain di dunia. Ironisnya, kata dia, Indonesia menempati urutan ketiga dunia sebagai negara penghasil sampah makanan terbesar setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi pada 2023.

“Dari data SIPSN di 2022, sebanyak 69,2 juta ton sampah dihasilkan Indonesia. Dari jumlah itu, 41,27% atau yang terbanyak ialah sampah dari sisa makanan. Sektor rumah tangga menjadi sumber utama timbunan sampah yakni sebesar 38,28%. Sehingga kalau kita bicara tentang Ketahanan Pangan, tidak cukup hanya faktor keterbatasan lahan, faktor ekonomi, sosial atau kesehatan, tapi juga faktor pendidikan. Literasi tentang ketahanan pangan menjadi sangat penting untuk dipahami bersama,” jelas Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes.

Dipaparkan, PP ‘Aisyiyah pada tahun 2012 telah merumuskan bahwa qaryah thayyibah adalah
suatu perkampungan atau desa yang menjalankan nilai-nilai agama Islam secara kaffah dalam
segala aspek kehidupan yang meliputi akhlak, ibadah, dan muamalah. Artinya, qaryah
thayyibah merupakan perkampungan/ desa yang masyarakatnya menjalankan ajaran agama,
baik dalam konteks vertikal terhadap Allah (hablum minallah) dan secara horizontal di
masyarakat (hablum minannas) serta hubungan terhadap alam semesta. Sikap dan tindakan
relasional tersebut dipraktekkan ke dalam berbagai aspek kehidupan.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, keberadaan perkampungan ideal tersebut tertuang dalam QS. Al A’raf: 96. Yang artinya “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi”.

Juga dalam QS. Saba’: 15, “Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun”.

Dr. apt. Salmah Orbayinah, M.Kes mengatakan, dengan Qaryah thayyibah diharapkan mampu membentuk negara yang gemah ripah loh jinawi (baldatun thayyibatun warobbun ghofur ). Untuk mewujudkan qaryah thayyibah, maka harus berangkat dari keluarga yang menjalankan nilai-nilai agama dengan baik, menanamkan nilai persatuan dan kesatuan, tenang, damai, sehat, yang disebut sebagai keluarga sakinah.

“Jadi dari keluarga sakinah akan terbentuk qaryah thayyibah dan dari qaryah thayyibah akan terwujud negara yang kuat, damai, aman sehingga membantu terwujudnya ketahanan nasional,” ujarnya.

Secara khusus, tambah dia, usaha menebar kebaikan yang diperankan Aisyiyah terkait dengan
ketahanan pangan salah satunya melalui Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah (GLHA). Menurutnya, Lumbung Hidup ‘Aisyiyah adalah suatu gerakan untuk memanfaatkan lahan pekarangan yang dikelola secara individu maupun kelompok agar dapat menjamin ketersediaan pangan baik bersumber dari tanaman maupun hewan, yang bertujuan meningkatkan ketersediaan pangan dan perekonomian keluarga (MEK PPA, 2020). Aisyiyah terus berkomitmen bersama pemerintah menggerakan soko guru ekonomi nasional. (smb)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *