SuaraMu Buleleng – Ibadah sholat Idul Fitri 1446 yang digelar PD Muhammadiyah Buleleng di Eks. Pelabuhan Buleleng, Senin (31/3/2025) berlangsung khidmat. Warga Muslim Singaraja memenuhi nyaris seluruh areal eks. pelabuhan utama di era keemasannya tersebut.
Ketua Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Buleleng, Ustadz H.M. Ali Susanto, M.Pd. bertindak selaku khatib. Sedangkan imam sholat Ied, yakni Ustadz Fariz Zuhairi, S.Pd., alumni Ponpes Isy Karima Tawangmangu Solo, Jawa Tengah.
Dalam khutbahnya, Ustadz Ali Susanto mengatakan, seharusnya puasa melahirkan empat kecerdasan sebagai cermin orang yang meraih ketakwaan. Keempat kecerdasan tersebut yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, kecerdasan sosial dan kecerdasan emosional.
“Kita semua bergembira karena telah menyelesaikan pendidikan tertinggi selama sebulan penuh. Namun, kita pun bersedih karena hari ini kita ditinggalkan oleh tamu yang agung. Tamu yang membawa rahmat, tamu yang membawa maghfirah, dan tamu yang menjauhkan kita dari api neraka, yakni bulan suci Ramadhan,” jelasnya.


Menurutnya, orang yang telah menyelesaikan pendidikan tertinggi selama sebulan penuh, seharusnya lahir sebagai manusia dengan kecerdasan intelektual. Ia mengatakan, Allah memerintahkan para hambanya untuk gemar membaca. Karena itulah, ayat pertama yang diturunkan dimulai dengan iqra’.
“Sebab, membaca adalah pintu pengetahuan. Dengan membaca manusia akan mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak tahu. Islam memerintahkan manusia untuk mengeksplorasi kemampuan berpikir. Dan hal tersebut harus dimulai dengan membaca,” papar Ustadz Ali Susanto.
Ditegaskan, kemampuan intelektual inilah yang membedakan eksistensi manusia dengan makhluk lainnya, sehingga manusia menjadi makhluk paling unggul dan beradab. Tetapi, lanjut Ustadz Ali Susanto, banyak manusia yang menganggurkan anugerah akal ini.
“Mereka punya mata hanya untuk melihat, tapi tidak untuk memperhatikan. Mereka punya perasaan tapi hanya merasakan tapi tidak untuk menyadari. Mereka punya telinga tapi untuk mendengar, tapi tidak untuk mendengarkan. Mereka punya tangan hanya untuk menggenggam, bukan untuk memberi dan menolong orang lain. Mereka punya kaki tapi hanya digunakan untuk berjalan, tidak untuk melangkah mengerjakan kebaikan,” ujarnya.
Menurut Ustad Ali Susanto, kecerdasan intelektual inilah yang menjadi dasar di dalam beramal di bulan Ramadhan. Tegas dia, tentunya ini harus berlanjut dalam ibadah lain di luar Ramadhan. Dikatakan, kecerdasan intelektual akan tercermin dalam seseorang yang menggunakan akalnya dalam mengimani keberadaan Al Khalik, Allah SWT, dan membenarkan syariat Allah SWT. “Kepada kita tidak disuruh dan dianjurkan untuk mengerjakan apa-apa dengan cara taklik atau asal ikut saja,” katanya.
Ditegaskan Ustadz Ali Susanto, kecerdasan intelektual ini dapat terwujud tentu dengan harus senang mendatangi majelis-majelis taklim, mendatangi majelis ilmu,dan terus menambah pengetahuan serta memahamkan diri dalam ilmu agama. Kecerdasan intelektual ini akan menjadi dasar kecerdasan berikutnya, yakni kecerdasan spiritual. Dengan kata lain, kita ini dituntut berilmu dulu baru beramal.
Menurut Ustadz Ali Susanto, kecerdasan spiritual yang diharapkan lahir dari pendidikan selama Ramadhan yakni bagaimana kita mengerahkan segala nikmat dan kemampuan untuk senantiasa berada di jalan kesalehan, baik dalam muamalah, terlebih dalam hal ibadah.
“Kecerdasan spiritual pada hakikatnya adalah menggenggam kuat ajaran agama, dengan kesadaran dan keyakinan tinggi, bahwa hal itulah yang menyelamatkan kita baik selama di dunia maupun di akhirat,” tegasnya.
Dijelaskan juga bahwa Ramadhan membawa hal luar biasa di dalam kehidupan. Bagaimana kita merasa lebih dekat dengan Allah ketika sedang berpuasa. Kita merasa diawasi oleh Allah, sehingga ketika siang hari di rumah walaupun tidak ada orang yang melihat, kita tetap tidak berani menyentuh makanan dan minuman.
“Ketika seseorang memiliki kecerdasan spiritual, ia akan muamalah dengan jujur. Tidak suka mengurangi takaran dan timbangan. Tidak suka mengambil hak orang lain, apalagi korupsi dan hal lain yang dilarang agama,” jelas Ustadz Ali Susanto.
Dikatakan, Ramadhan mengajarkan, bahkan menumbuhkan kesadaran yang tinggi kepada pelakunya jika melakukan perbuatan dosa, berbuat keji bahkan sekadar berkata kotor, apalagi dusta, maka puasanya tidak akan dinilai. Hidup untuk ibadah menjadi tujuan dari kecerdasan spiritual ini. Ibadah selalu menjadi prioritas dalam hidupnya. Bahkan visi hidup seorang alumni Ramadhan adalah mengerjakan ibadah, ibadah lagi, dan ibadah terus.
“Kecerdasan spiritual ini tergambar dalam seseorang yang selalu bangun untuk sholat malam, dan selalu intens berinteraksi dengan Al Quran. Kita semua sama-sama mengetahui, bahwa rangkaian Ramadhan yang utama adalah qiyamul lail dan tadarus Al Quran,” terangnya.
“Jadi selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadah wajib, menambah kuantitas ibadah sunah. Ini adalah salah satu ciri bagusnya kecerdasan spiritual,” sambung Ustadz Ali Susanto.
Berikutnya adalah kecerdasan sosial. Kata Ustadz Ali Susanto, alumni Ramadhan tidak akan pernah sibuk memikirkan diri sendiri. Motivasinya ada pada pesan Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa siapa yang memberi makan orang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.
Menurutnya, Ramadhan mengajarkan manusia untuk selalu peduli dengan sesama. Menyadarkan keberadaan kita sebagai makhluk sosial, bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. “Biasakan berpikir, bukan orang lain yang membutuhkan kita, tapi sejatinya kitalah yang butuh mereka. Alumni Ramadhan harus peduli dan terus berbagi dan mengerti kondisi orang di sekitarnya,” Ustadz Ali Susanto mengingatkan.


Dalam konteks Ramadhan dan Idul Fitri, kata dia, ciri orang takwa sebenarnya sudah didorong oleh syariat Islam melalui ajaran zakal fitrah. Zakat fitrah adalah simbol bahwa rapor kelulusan puasa harus ditandai dengan mengorbankan sebagian harta dan menaruh kepedulian kepada mereka yang lemah.
“Aktivitas ini harus terus berlangsung tidak saat Ramadhan saja. Zakat fitrah hanya awal atau pancingan bagi segenap kepedulian sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya. Kecerdasan sosial hanya akan tercapai manakala di dalam hati kita memiliki keyakinan yang tinggi bahwa harta itu tidak akan berkurang dengan shodaqah dan infaq. Keberkahan harta justru akan diperoleh dengan mengeluarkannya di jalan Allah. Dan Allah pasti akan mengganti dengan yang lebih baik dan lebih banyak,” tegasnya.
Ustadz Ali Susanto juga menguraikan bahwa berbagi itu adalah salah satu jalan agar Allah selalu memberi kemudahan dalam hidup kita. Menurutnya, di dalam ilmu kedokteran, ketika kita mau berbagi maka hormon serotonin akan meningkat.
Kata dia, serotonin ini adalah hormon kebahagiaan yang berkaitan dengan suasana hati. Jika kurangnya hormon serotonin terjadi dalam jangka panjang, maka seseorang akan mengalami gangguan kesehatan mental. Karena itu, ujar Ustadz Ali Susanto, kita perlu memastikan tubuh kita ini memproduksi hormon ini dalam jumlah yang optimal. Salah satu caranya dengan merangsang otak menghasilkan serotonin dengan bersyukur sekaligus berbagi.
Berikutnya, papar Ustadz Ali Susanto, ciri orang muttaqin yakni pada dirinya melekat kecerdasan emsional. Yakni mampu menahan emosi dan amarah. Walaupun amarah adalah sifat yang manusawi, tetapi orang bertakwa tidak akan mengumbar marah begitu saja. Sebagaimana termos, orang berpuasa semestinya mampu menyembunyikan panas di dadanya, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak tahu bahwa dia sedang marah. Bisa jadi dia dalam keadaan emosi dan amarah, namun ketakwaan mencegahnya melampiaskan itu karena tahu mudhorat yang akan ditimbulkan.
Ustadz Ali Susanto menegaskan, Ramadhan telah melatih kita untuk berlapang dada, bijaksana dan tetap sejuk menghadapi situasi sepanas apapun. Terlebih bila sikap ini kita implementasikan dalam skup kecil yakni keluarga. Bagaimana suami lemah-lembut kepada istri, bagaimana istri tidak kasar kepada suaminya. Orangtua tidak sering marah-marah kepada anaknya, dan anaknya menjaga diri agar tidak membuat orangtuanya marah.
“Sabar adalah kata kunci dalam kecerdasan emosional. Sabar yang dimaksud tentu yang memiliki tiga dimensi, yaitu sabar dalam menghadapi musibah atau masalah. Sabar dalam mengerjakan ibadah, dan sabar untuk tidak mengerjakan maksiat dalam situasi apapun. Dan sesulit apapun, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional akan selalu sabar karena Allah berjanji akan bersama orang-orang yang sabar,” tegasnya. (smb)

