SuaraMu Buleleng – Kepala sekolah dan guru-guru sekolah Muhammadiyah se-Buleleng dan Karangasem mengikuti Pendampingan Penjaminan Mutu Sekolah Muhammadiyah yang dilaksanakan di SD Muhammadiyah Singaraja, Rabu (12/3/2025). Sebagai fasilitator dalam pendampingan tersebut yakni Dr. Mulyana AZ, S.Pd., M.Si., dari PP Muhammadiyah.
Acara dibuka Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PW Muhammadiyah Bali, Dr. Sugito, M.Pd. Turut hadir dalam pembukaan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, Dodi Irianto, dan pengurus Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah Buleleng.
Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal (PNF) PD Muhammadiyah Buleleng, Andi Wadi, M.Pd., dalam sambutan pengantar mengatakan, kegiatan tersebut merupakan instruksi dari PP Muhammadiyah. Karena instruksi, kata dia, tentu kegiatan tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting. “Kegiatan ini bukan kegiatan kaleng-kaleng. Ini agenda yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Andi Wadi menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Dikatakan, mutu atau kualitas adalah kata kunci kalau sekolah Muhammadiyah ingin bertahan atau bahkan berkembang. “Pendidikan yang bermutu atau berkualitas inilah yang akan menjadikan sekolah kita bertahan atau maju ke depan,” sambungnya.
Ia menyitir tulisan Ketua PDM Buleleng, H. Moh. Ali Susanto, M.Pd., di suaramubuleleng.com tentang filosofi kupu-kupu. Kata dia, banyak orang yang sibuk mengejar kupu-kupu, dan menangkapnya. Namun, tak kunjung tertangkap.
Tapi, kata Andi Wadi, ternyata untuk menangkap kupu-kupu itu tak perlu dikejar. Ada cara yang sangat gampang untuk menangkap kupu-kupu. Yakni dengan membuat taman dengan tanaman bunga yang indah. “Maka kupu-kupu akan datang dengan sendirinya ke taman yang indah ini,” jelasnya.
Menurut Andi Wadi, filosofi kupu-kupu bisa dijadikan acuan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Mutu pendidikan inilah yang akan mendatangkan kupu-kupu. “Ketika mutu pendidikan bisa kita jamin, maka insya Allah nanti tidak ada sekolah bebas SPP, atau sekolah gratis, tapi tetap akan diminati orangtua siswa,” tegasnya.

Ia memberi contoh sekolah Muhammadiyah di tempatnya fasilitator Dr. Mulyana di Surabaya. SPP-nya Rp 1,8 juta per bulan. Apakah orang-orang tidak ke sana? Ternyata justru orang-orang antre untuk sekolah di sekolah Muhammadiyah yang dikelola Dr. Mulyana. Karena mutu sekolahnya yang bagus.
Menurutnya, itulah tujuan dari kegiatan pendampingan tersebut agar mutu atau kualits sekolah Muhammadiyah di Buleleng dan Karangasem menjadi bagus dan diminati masyarakat.
Sementara Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PW Muhammadiyah Bali, Dr. Sugito, M.Pd., sambutannya, menjelaskan bahwa dirinya kenal Dr. Mulyana, selain fasilitator juga motivator. “Saya kenal beliau 2004. Dua tahun setelah saya menjadi kepala sekolah, waktu itu di Denpasar. Beliau di Surabaya, kami ketemu. Setelah itu kami tindak lanjuti. Akhirnya 4 tahun kemudian sekolah kami menjadi rintisan sekolah bertaraf internasional. Satu-satunya di Bali swasta saat itu,” katanya.
Dr. Sugito mengatakan, saat ini Muhammadiyah dipercaya oleh negara untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Yakni diangkatnya Prof. Abdul Mu’ti menjadi Menteri Pendidikan Dasar Menengah. “Beliau Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Kedua, Menteri Pendidikan Tinggi dan Riset, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., itu juga dari Muhammadiyah,” katanya.
Artinya, kata dia, pendidikan dasar, menengah, tinggi dan riset itu dipercayakan kepada Muhammadiyah. Menurutnya, warga Muhammadiyah harus bersyukur, dan juga ada rasa kebanggaan. Oleh karena itu, Dr. Sugito mengajak kepala sekolah dan guru-guru Muhammadiyah meningkatkan kepercayaan diri. “Jangan lagi kita merasa kurang percaya diri sebagai guru Muhammadiyah. Kita harus percaya diri bahwa negara sudah mempercayakan kepada Muhammadiyah untuk menyelenggarakan pendidikan nasional,” tegasnya.
Selain itu, tambah Dr. Sugito, Muhammadiyah sendiri juga punya amal usaha pendidikan. Jadi disamping tanggung jawabnya mengurusi pendidikan nasional, juga harus mengurus pendidikan Muhammadiyah.
Ia menyebutkan, berdasarkan data statistik, pendidikan dasar (SD, SMP, SMA) milik Muhammadiyah sekitar 5.400-an di seluruh Indonesia. Ditambah perguruan tinggi.
Menurutnya, kalau data itu dirata-rata tiap provinsi, dengan dibagi 38 provinsi, berarti setiap provinsi, Muhammadiyah punya 140-an sekolah dari SD, SMP, hingga SMA. Namun, kenyataannya di Bali dengan 9 kabupaten/kota, sekolah Muhammadiyah hanya ada 15. Di Singaraja ada 3 sekolah Muhammadiyah, di Karangasem ada satu, Tabanan satu (sebentar lagi menjadi dua), dan di Denpasar 8 sejak tahun 2012. Kata dia, 15 sekolah Muhammadiyah di Bali tersebut masih dibawah standar. Ia ingin sebelum Muktamar Muhammadiyah tahun 2027, ada tambahan sekolah Muhammadiyah lagi di Bali. Misalnya di Singaraja menjadi 4, Jembrana jadi dua, demikian juga di Karangasem.
Menurut Dr. Sugito, itu masih bicara kuantitas. Lantas bagaimana kualitas sekolah Muhammadiyah di Indonesia. Kata dia, dari 5.400-an lebih sekolah Muhammadiyah tersebut, dikelompokkan menjadi 3. Yakni sekolah Muhammadiyah yang sehat, yang secara fisik gedungnya, fasilitasnya betul-betul lengkap dan mapan. Jumlah siswanya di atas 400 bahkan lebih. Bahkan ada yang 3 kali lipat.
“Seperti halnya badan manusia, kalau badan sehat bergeraknya baik, apa yang kita kerjakan lancar,” tegasnya. Menurutnya, yang unggul dan sehat ini jumlahnya hanya 11 persen di seluruh Indonesia. “Jadi sangat kecil,” tambahnya.
Kelompok kedua, sekolah Muhammadiyah yang ada di tengah-tengah antara sehat dan sakit. Jumlah siswanya antara 100-400. “Singaraja ada di kelompok ini.
Sedangkan ketiga, kelompok dengan posisi paling rendah, yakni sakit. “Katakan kalau manusia itu sudah masuk UGD. Ini sudah sakit berat. Dari fisiknya saja kelihatan, sekolah itu tidak layak. Sarananya juga. Jumlah siswa di bawah 100. Itu jumlahnya 38 persen seluruh Indonesia,” papar Dr. Sugito.
Atas dasar itulah, tambah dia, PP Muhammadiyah memberikan instruksi kepada Majelis Dikdasmen untuk menari penyakit sekolah Muhammadiyah yang tidak sehat itu. Penyebabnya apa. Semula diduga kepala sekolah. Lalu treatmen apa? Maka diadakan pendidikan khusus kepala sekolah.
“Tidak selesai di situ, setelah kegiatan itu apa. Ya hari ini, yakni pendampingan penjaminan mutu untuk melihat progres bagaimana kepala sekolah mendapatkan ilmu, mendapatkan motivasi, dan pulang ke sekolah masing-masing apa yang telah dilakukan,” katanya.
Fasilitator pada acara tersebut verifikasi, dan validasi data, sekaligus memberikan motivasi dan memberikan pencerahan kepada semua peserta. “Karena beliau ingin sekolah itu bergerak. Bergerak itu kerjasama kepala sekolah dan para gurunya jalan,” jelasnya. (smb)

