- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd
ADA dua kota yang sangat terkenal di negara bagian California: San Francisco dan Los Angeles (LA). Negara di bagian barat Amerika yang menghadap ke samudra Atlantik.
Tahun 1967 Mc Kenzie mempopulerkan San Francisco lewat lagunya yang bercerita penduduk San Francisco selalu menyematkan bunga di rambutnya tatkala musim panas tiba. Sampai sekarang lagu San Francisco masih sering dinyanyikan saat orang ingin berkunjung ke San Francisco.
Tetangganya Los angeles (LA) lebih memilih industri film untuk memperkenalkan kotanya kepada dunia. Ada distrik Hollywood yang memperkenalkan budaya Amerika lewat film.
Dunia gemerlap lantas membuat penduduk California menjadi semakin hedonis : orang menilai orang dari rumah, kendaraan dan uangnya. Lebih penting uang ketimbang persahabatan dan perkawinan. Orang bisa saja meninggalkan rumah tangga jika dirasa tidak menguntungkan.
Kebetulan 5 Januari penobatan hadiah Golden Globe untuk 11 aktor dan artis Amerika sebelum digelar penganugerahan Oscar tingkat dunia. Biasanya pemenang Golden Globe kandidat peraih Oscar.
Dari 11 peraih Golden Globe saat menyampaikan pidato berterima kasih kepada ibu. Produser dan lawan main. Sama sekali tidak menyebut Tuhan. Sampai si pembawa acara nyeletuk inilah kota tanpa Tuhan.
Dua hari kemudian kota LA terbakar hebat. 10.000 rumah hangus rata dengan tanah. 17 orang meninggal. Kerugian ditaksir 3.000 T. Hampir sama dengan APBN Indonesia yang 3.200 T. Spekulasi muncul. Apakah ini murni kehendak alam. Atau rekayasa? Apalagi Elon Musk orang, terkaya Amerika yang menguasai teknologi IA menjual asetnya di tahun 2022 dengan alasan tambahan modal mengembangkan IA. Apalagi tidak biasa, api seperti dikirim dari rumah ke rumah elit para bintang film. Hikmahnya sudah mulai terdengar para aktor dan artis menyebut nama Tuhan yang selama ini mereka lupakan.
Sampai Donald Trump dilantik, kebakaran LA belum bisa dipadamkan. Di hari pelantikan. Trump langsung membuat perintah harian. Melarang trans gender. Usir imigran gelap. Hentikan perang Rusia – Ukraina. Lantas tumbuh harapan perdamaian di Gaza. Yang selama dua tahun terakhir dihujani bom tiap hari oleh Israel yang didukung Amerika.
Saatnya Amerika berpikir. Bisa saja Israel menghanguskan Gaza. Tapi Tuhan menimpakan balasan kepada kota Los Angeles.
Pelantikan Trump memicu ketegangan baru. Apalagi polling di Amerika sering membuat pertanyaan terbalik. Dulu pertanyaannya apa yang paling menyakitkan? Jawaban terbanyak: dikhianati.
Sekarang pertanyaannya, apa yang paling menyenangkan, menguntungkan? Jawabnya: mengkhianati. Amerika pun dibakar api. []
* Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

