Harapan kepada Mister Presiden

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

IBARAT bulan madu, Prabowo Subianto (PS) diperlakukan sangat hangat oleh wartawan Indonesia yang mengikuti lawatan keliling dunia selama hampir sebulan. Tidak kurang Perdana Menteri Australia heran dengan sikap wartawan yang biasanya galak menyampaikan pertanyaan kritis kepada pemimpin suatu negara.

Akhirnya memang ada media asing yang menulis bahwa Prabowo pemimpin yang lemah. Yang hanya tegas saat berpidato, namun saat terjadi peralihan kepimpinan, banyak sekali beban yang harus ditanggung. 

Kabinet sumber jumbo. Yang kelewat mengedepankan harmoni. Janji memberi 2 juta kepada setiap guru, lantas diumumkan justru menimbulkan ambigu. Satu kebohongan harus ditutup dengan kebohongan yang lain. Tentu janji bisa ditepati, jika utang negara tidak membengkak, kebocoran anggaran bisa ditambal. 

Dua PR besar ini saja sudah memerlukan energi lebih untuk mengatasinya. Belum lagi mewujudkan swasembada pangan lewat pengaktifan kembali Bulog. Lembaga yang dulu dimanfaatkan sebagai “lumbung” pejabat dan kroni-kroninya. 

Swasembada energi yang mendapat tantangan pihak asing yang ingin Indonesia tidak merdeka dalam menentukan sikap. Juga masalah pertahanan nasional yang sangat dipahami Prabowo sebagai mantan jenderal dan Menhan. Bahwa persenjataan kita sangat lemah. 

Ingat jaman Dwikora saat Indonesia konfrontasi dengan Malaysia. Inggris membantu total Malaysia dengan menyiapkan pesawat berhulu ledak nuklir ringan untuk menyerang Jakarta. Pangkalan Inggris ada di Darwin Australia. Daya jangkaunya sangat dekat ke Indonesia. Belum lagi tiap Indonesia mau mandiri, Papua bergolak. 

Kemampuan bahasa Inggris Prabowo dan lobi internasional sangat diharapkan bisa membuat Prabowo bisa mengurai persoalan negara satu per satu. 

Hambatan berikut tentu faktor Jokowi. Yang selalu cawe-cawe dalam setiap kebijakan yang dibuat pemerintahan Prabowo. Presiden harus segera lepas dari bayang-bayang Jokowi jika ingin melaksanakan apa yang seperti ditulis Prabowo dalam dua bukunya yang berjudul “Kepemimpinan Militer, satunya lagi berjudul “Paradoks Indonesia dan Solusinya”. 

Jika prajurit menderita, komandan harus ikut menderita. Jika ada bahaya, komandan yang paling depan menghadapinya. Bukan berkhianat tinggal gelanggang colong playu seperti yang dilakukan Jokowi kepada partainya.  

Ini yang ditunggu rakyat. Selamat bekerja Mister Presiden. Rakyat menunggu janji-janji yang harus ditepati. Kurangi pidato meledak ledak. Tiru Jokowi dari sisi yang baik : kerja, kerja, kerja. 

Jangan tiru sikap Jokowi yang tidak kesatria. Kami gantungkan harapan dan asa kepada yang mulia Mister Presiden. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng   

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *