- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
PRABOWO Subianto resmi menjadi Presiden Indonesia. Macam-macam kabar berseliweran. Ada yang berupa kajian ilmiah mirip disertasi. Ada yang berupa dialog. Seperti yang diasuh Karni Ilyas dan Aiman Wicaksono.
Ada juga broadcast yang dikelola para aktivis, mantan ketua KPK, anggota dewan.
Koran-koran online yang diobral semakin murah. Koran dan majalah terkemuka yang men-visual-kan berita tulis menjadi Tiktok lewat Bocor Alus yang ditonton puluhan juta orang. Juga ada berita-berita lewat penggalan Tiktok yang tidak jelas sumbernya. Dengan mencuplik berita sesuai selera. Memberi narasi, kadang ujaran kebencian.
Bagi yang tidak banyak waktu membaca berita, kategori berita hoaxs akan mudah dikutip dan disebar-luaskan. Akhirnya memang dalam satu grup yang berisi komunitas tertentu: keluarga, alumni, hobi, pensiunan, perguruan, lingkungan tetangga. Saling lempar Tiktok sudah menjadi fenomena yang biasa.
Pagi hari biasanya Tiktok berisi ucapan selamat pagi disertai harapan dan doa, semoga hari ini hari yang baik untuk semua. Meme tangan menengadah disertai tulisan Amien ya robbal alamin lantas menimpali.
Gambar kopi mengingatkan untuk jangan lupa ngopi menyusul kemudian. Bagi grup yang terdiri dari pensiunan. Satu hari satu hadis menjadi bacaan tiap hari.
Lantas Tiktok, kata-kata bijak bestari dilemparkan untuk menyemangati para teman sesama pensiunan. Di grup alumni tidak bosan-bosan mengirim Tiktok lagu kenangan saat sekolah lengkap dengan memori masing masing.
Jangan lupa pula, jika kita punya hobi pasti akan bertemu dengan sesama hobi. Pecatur bertemu pecatur, penikmat filsafat saling bertemu, penulis bertemu penulis, pengumbar bakat girang berkelompok di michat. Para pemerhati seni dan budaya serta aspek aspek yang lain bertemu dalam satu wadah.
Lewat Tiktok berbagi info sesama. Keadaan ini membuat lapangan kerja baru bagi pegiat medsos untuk membuat konten kreator. Ada yang mengkhususkan pada humor kuntilanak, usil menjahili pengunjung mall, malioboro. Ada yang memposting jalan jalan lewat pesawat udara, kapal laut, bus dan kereta api. Lengkap dengan fasilitas dan harga tiket.
Ada juga yang membahas tempat kuliner di kota-kota yang dikunjungi. Tentu yang paling diburu ibu-ibu, Tiktok live yang menjual baju, rambut palsu, sampai bumbu-bumbu. Sehingga selalu ada teriakan paket di depan pintu. Isinya remeh temeh, mulai tisu, penggunting kuku, bedak, gincu, gula, kopi, susu sampai merica. Sesekali muncul paket rendang dari biang kotanya, Payakumbuh.
Tiktok merampas semua aspek kehidupan kita. Yang paling seru tentu Tiktok politik. Ada yang berusaha netral, menyampaikan berimbang. Ada yang berpihak. Ada yang cuma meneruskan. Para pembuatnya kemudian disebut buzzer atau influencer. Membuat tiktok berdasar pesanan. Biasanya memuja-muja atau memaki-maki. Tanpa mengindahkan etika.
Ini yang harus diwaspadai. Karena akurasi data sebagai argumen dibelokkan ke arah sentimen. Rakyat yang sudah cerdas akan menalar berita semacam ini untuk menolak sesat.
Benar Gus Dur ketika membubarkan Departemen Penerangan dengan mengatakan: biarkan rakyat menilai, mana berita yang sampai di hati dan pikirannya.
Sehingga kita bisa menimbang-nimbang mana yang lebih baik?
* berhujan-hujan dibanding berteduh di tempat yang salah.
* Lelah menunggu datangnya orang baik dibanding lelah hidup bersama orang yang tidak baik.
* Tidak mengenal lelah berjuang untuk pemimpin yang lebih baik dari pada lelah didzolimi pemimpin yang tidak baik. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

