- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
BEDANYA guru dengan yang lain adalah guru belajar dan mengajar. Sementara orang kebanyakan belajar untuk dirinya sendiri.
Sama-sama membaca buku, mempelajari suatu ilmu. Guru masih harus memikirkan didaktik metodik untuk bisa sampai membuat muridnya faham. Segala cara dilakukan guru agar muridnya bisa dengan mudah menerima materi pelajaran.
Dengan media, alat peraga, mendemonstrasikan sampai akhirnya murid bisa membuat kesimpulan sendiri dari pengalaman ilmu yang dia dapat dari seorang guru.
Walau kemajuan teknologi terus berkembang. Tahun 2008, juara dunia Garry Kasparov bisa mengalahkan mesin dalam dwi lomba catur. Namun tahun 2023 kemarin, juara dunia Magnus Carlsen kalah melawan komputer stockfish level 16.
Intelegensia algoritma semakin canggih mengalahkan otak manusia. Namun jangan lantas membuat murtad. Karena secanggih apapun komputer, tidak bisa membuat tiruan aspek afektif manusia: cita rasa, budi pekerti dan akhlak yang beradab. Yang lebih populer disebut karakter. Komputer tetap benda mati yang tidak punya perasaan.
Jika sudah tahu bahwa keunggulan manusia terletak pada segi afektifnya. Di beberapa negara menerapkan pendidikan karakter ketika usia anak-anak masih di sekitar 7-10 tahun. Di Jepang orang tidak risau anaknya tidak bisa matematika. Sebab, serumit apapun matematika dan ilmu pasti yang lain, bisa dipelajari dalam waktu enam bulan sampai tiga tahun.
Sedangkan pendidikan karakter jika gagal, membetulkanya perlu waktu sampai 12 tahun. Itulah kenapa saat masih kelas 1 sampai 3 sekolah dasar, anak-anak di Jepang diajari antre, tata krama dan budi pekerti. Orang Jepang cemas dan merasa gagal jika anaknya tidak tertib antre.
Saya merasakan sendiri betapa tertibnya masyarakat Jepang. Jadwal penerbangan tepat waktu. Kereta api canggih yang tidak pernah mengalami kecelakaan sejak 1964. Aspal jalanan yang nampak mulus, namun seperti teraso, tidak licin, anti tergelincir. Menuju tempat wisata Gunung Fujiyama selalu ada tembok pelindung dari longsor.
Jalan dibuat nyaman, terowongan menembus bukit hal biasa untuk memperpendek jarak tempuh. Pasir pengaman jika rem blong ada di banyak tempat. Rest area yang bikin rileks. Ditambah dengan sopir-sopir yang sangat disiplin. Ketika sampai di tempat wisata, sopir bus tidak turun ikut jalan-jalan. Bus seperti mobil Renault yang kalau dimatikan mesinnya, pegasnya “ndoprok” memendek.
Di tempat sopir sudah tersedia air panas jika ingin minum kopi. Ada kompor untuk bikin mie instans. Sangat praktis. Menurut standar operasi prosedur, sopir hanya boleh turun jika ingin ke toilet. Itupun ijin lewat komunikasi dengan kantor pusatnya. Apapun yang dilakukan sopir, terpantau CCTV. Sopir di Jepang selalu berpakaian necis. Jas berdasi. Karena profesi sopir terhormat.
Kamar hotel di Jepang sangat sempit, tapi penuh tombol untuk memanjakan tamunya. Ada handuk yang kalau dipakai bisa keluar gambar wanita Jepang berkimono.
Semua kemajuan teknologi Jepang justru semakin memperkuat kultur budaya Jepang. Konsisten menaati peraturan dan sanksi yang tegas bagi siapapun pelanggarnya. Sanksi moral dibuat sama berat dengan sanksi pidana atau perdata.
Setelah karakter terbentuk, barulah aspek kognitif dan psikomotorik digenjot diajarkan kepada siswa. Jarang terdengar ada kenakalan remaja di Jepang. Karena kenakalan remaja berakibat kepada masa depan anak ketika memasuki dunia kerja. Catatan kenakalannya akan menutup peluangnya memasuki dunia kerja.
Pada aspek afektif inilah tugas guru menjadi tidak ringan. Apalagi pelajaran tentang pembentukan karakter hanya ada pada pelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan saja. Waktunya cuma 2 jam pelajaran per minggu dari 44-48 jam pelajaran yang ada di sekolah.
Maka tidak ada cara lain, keluarga adalah universitasnya kehidupan. Orang tua harus ketat mendidik anaknya. Pastikan anak-anak belajar dari konten agama dan budi pekerti menjadi bacaan wajib disamping ilmu pengetahuan produktif yang digeluti.
Anak-anak wajib mendisiplinkan diri di tengah situasi yang kurang disiplin. Karena karakter seseorang dibentuk di lingkungan keluarga, baru di sekolah.
Fenomena baru muncul ketika guru atau dosen sangat unggul di kisaran kognitif, namun dianggap nyeleneh di aspek afektif. Ini terjadi saat debat antara Rocky Gerung dengan Silfester Matutina. Ketika Rocky diajak debat di wilayah delik, Rocky terus berbicara konsep. Akhirnya berakhir ricuh. Banyak nitizen condong ke Rocky. Karena apa yang dia ucapkan mengkritik kebijakan Presiden karena memang kebijakan Presiden sering melanggar etik.
Sedang etik wilayah afektif sehingga tidak bisa dibuktikan secara empiris. Seperti yang diminta Silfester. Bisa saja satu pihak mengatakan tidak etis, pihak lain mengatakan itu strategi.
Namun jika aspek afektif mulai dikesampingkan. Negara kita harus segera diperbaiki. Mengembalikan sopan santun, etika dan moral sebagai panglima. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

