- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd
BULAN Agustus, bulan spesial bagi bangsa Indonesia. Karena pada tanggal 17, Indonesia merdeka. Dengan segala dinamikanya.
Majalah Tempo biasanya menurunkan edisi khusus untuk mengulas pribadi para pelaku sejarah. Tulisan Tempo pada edisi khusus lantas menjadi dokumen sejarah. Karena bukan hanya menulis dari sisi ilmiahnya saja dengan menyajikan fakta. Tapi juga dari sisi humanis, yang lebih menarik karena mengulas sisi pribadi sang tokoh. Dimana dilahirkan, Tempo menelusuri tempat kelahirannya. Dimana makamnya. Bagaimana ceritanya. Lengkap tersaji.
Karena untuk menurunkan edisi khusus, Tempo membentuk tim, yang melacak kampung halaman, tempat sekolah, tempat kuliah, pasangan hidupnya. Kisah sukses dan gagalnya. Hobi dan kebiasaannya. Semua tersaji. Dan menginspirasi.
Tokoh Proklamator Mohammad Hatta ditelusuri Tempo mulai dari tempat kelahirannya di Bukittinggi, sampai melaksanakan pendidikan tinggi di negeri Belanda dan pulang ke Indonesia untuk ikut berjuang memerdekakan Indonesia. Sampai terucap kata tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
Dan itu terbukti. Namun jabatan wapres dimasa perjuangan terhenti setelah 14 tahun bersama presiden terjadi beda pendapat yang sangat tajam. Selama menjabat, Bung Hatta selalu mengingatkan Bung Karno agar segera melaksanakan Pemilu.
Benar, Bung Karno mendengar saran Hatta. Pemilu pertama dilaksanakan tahun 1955. Dengan hasil, urutan pertama PNI, lantas Masyumi, partai NU dan PKI. Perdebatan tidak berkesudahan tentang Nasakom membuat Bung Karno kesal. Masyumi tegas menolak. Partai NU menolak dengan cara yang lebih halus.
Akhirnya Bung Karno mengeluarkan Dekrit tahun 1959 yang antara lain membubarkan parlemen. Hatta kecewa. Karena Bung Karno mengkudeta demokrasi. Terbukti memang. Pemilu hanya sekali saja di jaman kepemimpinan Bung Karno. Karena lantas menerapkan apa yang diistilahkan sebagai Demokrasi Terpimpin.
Hatta pamit undur diri baik-baik. Hatta lantas menjalani hidup sebagai warga negara Indonesia biasa. Tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Bung Karno. Sampai di tahun 80-an. Ali Sadikin kaget ketika dilapori stafnya bahwa rumah Bung Hatta belum membayar pajak, menunggak PLN dan PDAM.
Gaji pensiunan Bung Hatta tidak mampu menutup kebutuhan setelah semua tunjangan dicabut karena Bung Hatta menandatangani Petisi 50 yang mengingatkan Presiden Soeharto agar jangan mengidentikkan diri dengan Pancasila. Menentang Soeharto menentang Pancasila. Sebab, Pancasila dibuat bukan untuk dijadikan tameng. Tapi ideologi negara.
Ali Sadikin lantas minta DPRD DKI memberi status Bung Hatta warga negara kehormatan. Sehingga tidak perlu lagi membayar pajak, listrik dan air. Ali Sadikin mengupayakan kendaraan mobil untuk Bung Hatta.
Namun Hatta pribadi sederhana. Dalam buku catatan hariannya terselip iklan sepatu Bally yang Bung Hatta kepingin sekali memakainya. Namun sampai meninggal sepatu itu tidak terbeli.
Bung Hatta wafat….
Iwan fals menyanyi….
dengan tersedu sedan. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

