INI kisah menarik tentang pahala haji mabrur. Orang yang tidak haji atau berangkat ke Makkah-Madinah menunaikan rukun Islam kelima, ternyata bisa mendapatkan pahala haji. Pahala haji mabrur lagi. Kok bisa?
Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng, H. Imam Syafi’i, MHI, menyampaikan kisah ini saat memberikan tausiyah pada acara walimatussafar untuk melepas warga Muhammadiyah untuk berangkat haji di Masjid Al Manar Kompleks Perguruan Muhammadiyah Singaraja, Ahad (19/5/2024).
Dikisahkan oleh H. Imam Syafi’i, seorang ulama besar bernama Syaikh Abdullah Abdurrahman Al Mubarak, sedang melaksanakan ibadah haji. Syarat dan rukun haji telah ia laksanakan dengan baik. Setelah hampir selesai melaksanakan rangkaian kegiatan ibadah haji, syaikh ini capek dan tertidur.
Dalam tidurnya, Syaikh Abdullah Abdurrahman Al Mubarak bermimpi. Ia mendengarkan dialog dua malaikat dalam tidurnya tersebut dalam mimpinya.
Malaikat pertama bertanya, “Wahai malaikat, kali ini ada berapa orang yang melaksanakan ibadah haji.” Dijawab oleh malaikat kedua, “Ada sekitar 600 ribu jamaah haji.”
Lantas malaikat pertama kembali bertanya kepada malaikat kedua. “Kira-kira dari 600 ribu yang melaksanakan jemaah haji kali ini ada berapa orang yang diterima ibadah hajinya?”
Malaikat kedua menjawab. “Sama sekali atau tidak ada satu pun yang diterima. Termasuk Syaikh Abdullah Al Mubarak itu,” katanya.
Mendengar dialog kedua malaikat tersebut, Syaikh Abdullah Al Mubarak terbangun dan menangis. Karena ternyata ibadah haji yang dia lakukan tidak diterima oleh Allah SWT. Hajinya tidak mabrur, padahal dia seorang ulama besar.
Dalam dialog terakhir kedua malaikat tersebut dilukiskan, ada orang yang tidak melaksanakan ibadah haji ke Makkah, tetapi dia mendapatkan pahala haji yang mabrur.
Siapa orang yang mendapatkan pahala haji mabrur padahal dia tidak melaksanakan ibadah haji ke Makkah tersebut? “Dia adalah Ali Al Muwafak. Dia seorang cukang cukur di Damaskus,” lanjut H. Imam Syafi’i, yang juga mantan Penyelenggara Haji dan Umrah Kantor Kemenag Kabupaten Buleleng ini.
Kenapa Ali Al Muwafak mendapatkan pahala haji mabrur? Sebenarnya ia sudah menabung untuk berangkat haji. Tabungannya sudah mencapai 350 dirham. Tahun itu seharusnya dia berangkat haji, karena sudah daftar dan sudah menunggu lama. Dan saatnya tahun itu dia mendapat giliran berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Namun, waktu itu dia tidak jadi berangkat. Dikisahkan, waktu itu istrinya sedang hamil. Istrinya ngidam. Dan hari itu, istri Ali Al Muwafak mencium bau masakan yang sangat sedap. Bilanglah dia sama suaminya, Ali Al Muwafak. “Bang, kok saya mencium masakan yang sangat sedap. Tolong belikan saya, ya Bang. Saya ingin sekali makan masakan tersebut.”
Maka Ali Al Muwafak berangkat mencari di mana orang memasak masakan yang diinginkan oleh istrinya tersebut. Ia berjalan menyusuri jalan-jalan dan rumah-rumah warga mencari masakan tersebut. Akhirnya Ali Al Muwafak menemukan sumber bau masakan yang baunya membuat ngidam istrinya. Masakan itu dimasak seorang janda di rumahnya, atau tepatnya di gubuk reotnya di tengah sawah. Janda tersebut memasakkan masakan untuk enam anaknya.
Begitu masuk ke gubuk kecil yang reot itu, Ali Al Muwafak langsung bertanya kepada janda tersebut. “Bolehkah saya beli masakan yang ibu masak. Soalnya istri saya ngidam masakan ini. Aromanya tercium sampai ke rumah kami.”
Apa jawab sang janda tersebut? “Jangan tuan, masakan ini halal bagi kami, tetapi haram bagi tuan.” Tentu saja Ali Al Muwafak terkejut dengan jawaban janda tersebut. Kok ada makanan yang halal bagi janda dan anak-anaknya itu, tetapi haram bagi Ali Al Muwafak.
Ternyata setelah ditanya lebih lanjut, yang dimasak oleh janda tersebut adalah bangkai keledai. Masakah itu untuk menyambung hidup dia dan anak-anaknya. Subhanallah, seharusnya bangkai itu walaupun dimasak baunya pasti tidak enak. Namun, masakan bangkai keledai itu aromanya sedap yang sampai tercium oleh istri Ali Al Muwafak.
Ali Al Muwafak menangis menyaksikan kenyataan itu. Spontan Ali Al Mufawak pulang. Uang 350 dirham yang disiapkan untuk berangkat haji, dia belikan bahan-bahan makanan dan diserahkan kepada janda tersebut keperluan makannya dan makan anak-anaknya.
Dialog dua malaikat tersebut menggambarkan, bahwa meskipun Ali Al Muwafak tidak berangkat ke Makkah-Madinah untuk melaksanakan ibadah haji, karena uangnya dibelikan bahan makanan untuk janda itu dan anak-anaknya, ia mendapatkan pahala haji. Pahala haji mabrur. (smb)

