INI kisah dari Kyai Cepu. Atau nama aslinya Kusen, S.Ag., M.A., Ph.D. Dosen Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Wakil Ketua Lembaga Seni, Budaya dan Budaya (LSBO) PP Muhammadiyah. Kisahnya tentang bagaimana meraih hidup bahagia.
Kyai Cepu menyampaikan kisah ini saat memberi arahan dalam pertemuan Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Provinsi Bali dan Majelis Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng di SD Muhammadiyah Singaraja, Ahad, 10 Pebruari 2024 lalu.
Kyai Cepu menceritakan, suatu waktu di negara Finlandia terjadi kegaduhan. Warganya satu sama lain saling caci maki di grup-grup media sosial. Mereka berantem. Warga menjadi baperan. Kegaduhan terus terjadi dalam beberapa tahun. Akibatnya, masyarakat tidak bahagia.
Kyai Cepu memaparkan, pimpinan negara tersebut menduga, ketidakbahagiaan warga Finlandia itu disebabkan, antara lain, oleh ketidakmampuan mereka menangkal berita hoaks. Oleh karena itu, pimpinan negara Finlandia membuat suatu kebijakan agar warganya bisa hidup bahagia.
Apa kebijakan tersebut? Yakni pelatihan jurnalistik bagi warganya, diawali dengan guru dan dosen. Karena itu, guru dan dosen diliburkan. Libur satu bulan penuh. Mereka diharuskan belajar jurnalistik. Mahasiswa dan murid disuruh pulang dulu. Tidak usah belajar. Guru dan dosennya diharuskan ikut worksop jurnalistik, khususnya belajar bagaimana berita itu dibuat dan akhirnya muncul ke hadapan publik. Bagaimana suatu peristiwa diproses sampai menjadi berita.
Guru dan dosen harus mengikuti workshop jurnalistik, terutama memahami bagaimana sebuah berita itu dihasilkan. Materi lainnya dalam workshop jurnalistik itu, yakni belajar menganalisa sebuah berita. Dari mana sumber berita itu? Apakah berita itu bisa dipercaya atau tidak? Apakah berita hoaks atau tidak, dan seterusnya.
Akhirnya, papar Kyai Cepu, dalam waktu singkat, warga Finlandia sudah paham bagaimana berita diproduksi dan mereka tahu bagaimana menganalisa sebuah berita. Kalau muncul berita di WA-nya, mereka bisa memilah, oh ini berita hoaks, ini berita akurat, dan seterusnya.
Maka sejak itu orang di Finlandia hidupnya bahagia. Kenapa? Karena setiap ada yang nge-share berita, ia teliti, dan kalau hoaks ia abaikan. Tidak langsung di-share lagi ke orang lain.
Jadi ketidakbahagiaan itu dapat disebabkan ketidakmampuan seseorang menangkal berita hoaks.
Kyai Cepu menilai, negara Finlandia berhasil menerapkan Al Quran Surat Al Hujurat ayat 6. Ayat ini berbunyi, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.
Itulah yang disebut oleh Syekh Muhammad Abduh, guru ideologisnya KH Ahmad Dahlan di Mesir. Muhammad Abdul pernah mengatakan, “Ketika keliling Eropa aku temukan Islam, ketika kembali ke Mesir ke kampungku sendiri, tidak kutemukan Islam”.
Tentu saja ia diprotes masyarakat Islam. “Syekh bagaimana mungkin di Eropa ditemukan Islam, sedangkan di Mesir tidak ditemukan Islam.” Jawabannya, karena nilai-nilai Islam banyak diterapkan di Eropa.
Kyai Cepu menilai, mereka yang berani melanggar Al Quran Surat Al Hujurat ayat 6 itu, karena lebih mengedepankan nafsu. Padahal, kita harus tunduk kepada wahyu. Wahyu Allah SWT dalam Al Quran.
Wahyu memerintahkan apabila ada berita, harus diteliti. Apakah selama ini kita sudah meneliti setiap berita yang datang? Kalau belum, kata Kyai Cepu, berarti kita lebih mengedepankan nafsu.
Tuhan, lanjut Kyai Cepu, adalah segala sesuatu yang kita anggap penting. Misalnya apa yang dianggap penting? Jabatan. Orang lain merasa disakiti atau tidak, dia tidak peduli. Yang penting dia dapat jabatan itu. Maka tuhan dia adalah jabatan itu.
Atau uang, misalnya. Mau sesuai syariat atau tidak, mau melanggar aturan atau tidak, yang penting uang itu harus didapatkan, maka tuhannya adalah uang.
Dalam Surat Al Jatsiyah, ayat 23, Allah SWT mempertanyakan bahwa apakah manusia akan menjadikan nafsu sebagai tuhannya. Nafsu itu apa? Nafsu itu mengangkangi Al Quran, lebih mengedepankan nafsu dibandingkan wahyu. Kalau ada berita tidak pernah diteliti, langsung di-share, itu berarti mengedepankan nafsu. “Oh ini menguntungkan jagoanku. Langsung share.”
Perintah Al Quran dikangkangi. Perintah wahyu dikalahkan nafsu. Itulah yang terjadi dalam masyarakat Indonesia saat ini. Negara Finlandia telah mengamalkan nilai-nilai Al Quran, seharusnya Persyarikatan Muhammadiyah juga melaksanakan hal yang sama.
Maka, pesan Kyai Cepu, perlu workshop jurnalistik, untuk memahami bagaimana berita dibuat dan meneliti setiap berita. Kalau sudah sampai tingkat itu, insya Allah masyarakat akan melek literasi dan akan menyebabkan hidupnya menjadi bahagia.
“Maka dalam bayanganku, kalau ini bisa dilakukan, seluruh warga Muhammadiyah akan hidup bahagia”. Itu keyakinan Kyai Cepu. []
Ket. Foto: Kyai Cepu bersama Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, Moh. Ali Susanto


Hehehe
mantap pemberitaannya
Mantap beritanya
Mantep Penulis Beritanya
Keren
Kudoakan
PDM BULELENG makin tambah sukses dan penuh keberkahan dan terus menerus menebarkan berita berita kebaikan, terus meneruskan memproduk berita kebaikan. SPASIBA
Hehehe
mantap pemberitaannya. Mantap beritanya. Mantep Penulis Beritanya. Keren. Kudoakan PDM BULELENG makin tambah sukses dan penuh keberkahan dan terus menerus menebarkan berita berita kebaikan, terus meneruskan memproduk berita kebaikan. SPASIBA