MIGRAINE merupakan nyeri kepala primer dengan disabilitas kedua di dunia dalam laporan oleh Global Burden of Disease Study. Migraine memiliki tingkat disabilitas dan beban finansial yang tinggi pada masyarakat di seluruh dunia.
Migraine merupakan penyakit yang umum terjadi, dengan prevalensi 1 tahun hingga 18 %. Wanita tiga kali lebih sering mengalami migraine dibandingkan laki-laki. Prevalensi migraine tertinggi pada usia 20 – 64 tahun.
Migraine merupakan penyakit dengan patofisiologi yang sangat kompleks, terkait dengan keterlibatan vaskular, jalur nyeri sentral dan perifer, serta inflamasi.

Definisi dan Etiologi
Migraine tanpa aura berdasarkan International Classification of Headache Disorders 3 (ICHD-3) memiliki karakteristik nyeri kepala yang berlangsung 4-72 jam, lokasi unilateral, berdenyut, intensitas sedang-berat dan dapat diperberat oleh aktivitas fisik rutin, disertai keluhan mual/dan atau muntah, fotofobia dan fonofobia.
Faktor pencetus migraine masih belum diketahui pasti dan masih dalam penelitian lebih lanjut. Secara umum, etiologi dibagi menjadi dua yaitu modifiable dan non modifiable.
Resiko yang modifiable meliputi pola hidup seperti makanan, paparan terhadap stres lingkungan. Sedangkan non modifiable meliputi genetik, jenis kelamin, ras, dan usia.
Patofisiologi
Migraine merupakan suatu rangkaian kompleks yang sampai sekarang masih dalam penelitian lebih lanjut. Beberapa teori diusulkan yaitu teori vaskular, Cortical Spreading Depression (CSD) yang mendasari aura, aktivasi perifer dan sentral sistem trigeminus, teori hormonal terutama serotonin dengan pencetusnya diduga dipengaruhi oleh genetik dan lingkungan.
Migraine ditandai dengan serangan nyeri kepala berulang intensitas sedang hingga berat, terjadi akibat pembuluh darah di otak mengalami vasodilatasi. Peranan nukleus pada batang otak dan diensefalon terlibat dalam modulasi aktivasi trigeminovaskular, terdiri dari proyeksi eferen yang mempersarafi struktur durovaskular, dan proyeksi aferen dari struktur ini kembali ke nukleus kaudalis trigeminal.
Aktivasi jalur ini menyebabkan terjadinya vasodilatasi meningeal, inflamasi neurogenik, sensitisasi sentral, dan akhirnya dirasakan sebagai nyeri kepala. Banyak neuropeptida yang diduga terlibat dalam sirkuit migraine baik perifer maupun sentral. Identifikasi nyeri kompleks pada migraine melibatkan Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP); aferen trigeminal dan servikal atas, Trigeminal Nucleus Caudalis (TNC), thalamus, hipothalamus, limbik, struktur kortikal; dan jalur nosiseptif inhibitorik desending yang menjelaskan keterlibatan gejala afektif, kognitif, dan otonom yang terlibat pada migraine.
Meskipun beberapa orang mengalami aura sebelum serangan, gejala klinis migraine terjadi dalam 2 tahap utama sebagai berikut:
1. Aktivasi Saraf Trigeminus
Ketika saraf trigeminus teraktivasi, gejala pertama yang paling umum adalah rasa nyeri sekitar mata dan pelipis. Jika rasa nyeri ditangani dengan cepat dengan obat migraine seperti triptans, maka peradangan dapat dikurangi, sehingga migraine dihentikan relatif cepat. Triptans memberikan pasokan tambahan serotonin yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan blok transmisi nyeri.
2. Aktivasi Sistem Saraf Pusat
Gejala migraine yang tidak segera diobati, akan memicu mekanisme lain pada sistem saraf pusat. Pada fase ini, obat cenderung tidak bekerja secara efektif.

(sumber: Andreau & Edvinsson, 2019)
Klasifikasi Migraine
Migraine memiliki dua subtipe utama, yaitu migraine tanpa aura dengan karakterikstik nyeri kepala dengan gambaran spesifik, disertai gejala lain yang menyertai dan migraine aura dengan karakteristik adanya gejala neurologis fokal yang mendahului atau kadang menyertai nyeri kepala. Ketika pasien memenuhi kriteria dari lebih satu subtipe migraine, maka harus didiagnosa.
Klasifikasi Migraine (ICHD-3)
Migraine tanpa Aura
Setidaknya terjadi 5 serangan yang memenuhi kriteria: Serangan sakit kepala yang berlangsung 4 – 72 jam (tidak dapat ditangani atau tidak berhasil ditangani).
Sakit kepala yang memenuhi 2 karakteristik di bawah:
Posisi Unilateral, pulsating quality, rasa sakit sedang atau parah, bertambah parah dan terjadi berkurangnya aktivitas fisik rutin.
Selama sakit kepala setidaknya terjadi satu kejadian di bawah ini:
Mual dan/atau muntah, photophobia dan phonophobia, tidak termasuk kriteria diagnosa ICHD-3 dengan aura lainnya.
Migrain dengan Aura
Setidaknya terjadi dua serangan yang memenuhi kriteria:
Terjadinya salah satu atau lebih gejala aura reversibel di bawah ini:
Visual, sensori, bicara dan/atau Bahasa, motoric, batang otak, retina
Setidaknya terjadi dua karakteristik di bawah:
Tejadinya gejala aura yang menyebar secara bertahap selama paling cepat 5 menit dan/atau terjadi dua gejala setelahnya. Gejala aura terjadi 5 – 60 menit. Setidaknya 1 gejala aura unilateral. Aura terjadi bersama atau terjadi sakit kepala 60 menit kemudian. Tidak termasuk kriteria diagnosa ICHD-3: transient ischemic attack.
Migraine biasanya dimulai dari dahi, menyebar ke sisi kepala atau sekitar mata, memberat saat beraktivitas fisik, melihat cahaya terang, mendengar suara bising, atau mencium aroma yang menyengat. Gejala umum migraine terjadi dalam empat tahap, yaitu prodormal/premonitori, aura, nyeri kepala, dan postdromal, tetapi tidak semua penderita mengalami keempat fase ini.
Keempat fase tersebut, sebagai berikut : Fase prodromal terjadi beberapa hari hingga beberapa jam sebelum nyeri kepala. Terjadi gejala non spesifik seperti lemas, mengantuk, rasa haus, gangguan kognitif(berkurangnya konsentrasi),dan gangguan afektif (perubahan mood).
Fase aura atau yang disebut Transient Neurological Symptoms biasanya berbentuk alterasi visual, terjadi sesaat sebelum munculnya nyeri kepala.
Fase nyeri kepala, dengan intensitas nyeri sedang sampai berat, berdenyut, bersifat unilateral (kadang bilateral) dengan predileksi di fronto-temporal, serta cenderung bertambah ketika aktivitas fisik meningkat.
Fase postdromal merupakan gejala ikutan pasca serangan nyeri kepala, dengan karakteristik pasien merasa lelah, kekakuan di leher, dan sulit berkonsentrasi.
Kesimpulan
Migraine merupakan gangguan neurologis kompleks di dunia, memiliki disabilitas yang tinggi setelah stroke. Pemahaman konsep patofisiologi dan tatalaksana komprehensif sangat diperlukan. Banyaknya variasi gejala antar satu pasien dengan yang lainnya membuat penyakit ini sulit terdiagnosis secara tepat.
Pemilihan terapi pada migraine sangat individual, sebaiknya mempertimbangkan kondisi klinis, komorbiditas, sifat farmakodinamik dan farmakokinetik dari berbagai pilihan obat yang ada. Tatalaksana non farmakologis juga ikut mempengaruhi kesuksesan terapi seperti modifikasi gaya hidup dan menghindari pencetus migraine. []
Daftar Pustaka
Migraine. Neurologic Clinics. 2019 Nov; 37.
The Journal of Headache and Pain. 2022 Apr 12; 23.

