Bagian 1 – Keberadaan Muhammadiyah di Bali

Pendahuluan
Dalam sebuah pengantar buku tulisan antropolog Amerika Serikat, tentang Mahammadiyah, Muhajir Darwin menulis sebagai berikut: “Telah banyak diketahui bagaimana peranan organisasi sosial ini dalam memperbaharui konsepsi dan perilaku beragama di kalangan umat Islam Indonesia. Muhammadiyah, yang tokoh-tokohnya banyak memperoleh inspirasi dari pembaharuan agama di Timur Tengah, berusaha mengikis habis praktek-praktek sinkretisme dan sufisme yang menggejala di kalangan umat Islam Indonesia dengan mengembalikan ajaran agama pada sumber aslinya, Qur’an dan Hadits” (dalam James L. Peacock, 1983).
Sebagai sebuah gerakan sosial keagamaan, Persyarikatan Muhammadiyah yang lahir pada tahun 1912 di Yogyakarta, tumbuh dengan cepat dan merambah di berbagai pelosok tanah air Indonesia. Kiprahnya di berbagai bidang kehidupan dengan berbagai amal usahanya yang beragam, seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan lain sebagainya, telah banyak menarik minat berbagai kalangan, sehingga Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi modern kehadirannya cukup mendapat simpati.
Mcnarik untuk dikaji mengenai proses kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di Indonesia. Ia telah banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan penting, antara lain: faktor-faktor apakah yang mendukung keberhasilan dan kemajuan Muhammadiyah pada awal pertumbuhannya sehingga ia dipandang sebagai pelopor dalam sejarah gerakan pembaharuan Islam di Indonesia.
Menurut sejarawan Kuntowijoyo, jika dikaji sejarah Muhammadiyah, terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keberhasilan gerakan KH. Ahmad Dahlan ini.
Pertama, gerakan Muhammadiyah adalah gerakan yang secara kultural di bidang pendidikan yang berada di posisi garis depan. Hal ini bisa dilihat, gerakan pendidikan yang dilancarkan KH. Ahmad Dahlan ketika orang lain menolak dan berada di sudut-sudut pesantren, yang menolak sistem pendidikan kolonial pada masa itu. Pendidikan Muhammadiyah lebih menjanjikan masa depan dari pada sistem pendidikan pondok yang masih tradisional.
Kedua, gerakan Muhammadiyah adalah gerakan sosial dan ekonomi yang juga merupakan gerakan yang berada pada posisi garis depan. Basis ekonomi Muhammadiyah berada di sekitar Yogya dan Solo, cukup banyak memberikan bantuan kepada proyek-proyek yang didirikan Muhammadiyah dalam dua dekade sejak merdeka sampai dengan tahun 1965.
Pada masa itu, menurut beberapa pengamat, hampir semua kelompok Islam posisi ekonominya masih berada di atas, karena basis pendukung ekonominya masih utuh. Kelas menengah Islam pada waktu itu berada pada garis depan dan kelas menengah ke bawah cukup banyak dan sangat kuat. Kedua faktor inilah yang dipandang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan gerakan Muhammadiyah pada dekade pertama dan dekade kedua setelah kelahirannya di Yogyakarta (dalam Sukriyanto, dkk, ed. 1990).
Sebagai organisasi garis terdepan dalam proses perubahan sosial keagamaan dan ekonomi umat di Indonesia, Muhammadiyah telah menunjukkan kemampuannya menyebar dengan cepat di berbagai daerah di Indonesia. Namun tumbuhnya cabang-cabang organisasi modern Muhammadiyah di berbagai daerah itu tidaklah muncul secara tiba-tiba. Tampaknya, jauh sebelum hadirnya Muhammadiyah di masing-masing tempat, ide-ide pembaharuan dari beberapa individu telah muncul, hanya saja benih-benih itu memperoleh momentum yang tepat ketika Muhammadiyah lahir.
Atas dasar itulah keberadaan Muhammadiyah di berbagai daerah di Tanah Air dengan cepat memperoleh respon yang positif, termasuk di daerah Buleleng. Tulisan ini membatasi perkembangan Persyarikatan Muhammadiyah Buleleng sejak keberadaannya tahun 1939 sampai tahun 1971. Oleh karena itu, setelah masa tersebut tidak tercakup dalam pembahasan tulisan ini.
Keberadaan Muhammadiyah di Bali
Sebagai sebuah pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, masyarakat Bali telah menerima kehadiran pemeluk agama Islam dengan damai. Dalam catatan sejarah, keberadaan agama Islam telah berlangsung semenjak zaman kerajaan sekitar abad XV. Dalam kurun waktu yang sangat panjang itu, hubungan sosial umat Islam dan Hindu relatif berjalan dengan damai.
Umat Islam telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan struktur kehidupan masyarakat Bali yang mayoritas menganut Hindu. Hubungan dan kerjasama umat Islam dengan umat lain, khususnya dengan umat Hindu di Bali berlangsung secara harmonis.
Sebagaimana halnya di daerah-daerah lain di Indonesia, keberadaan Muhammadiyah Bali, masuk dan berkembangnya organisasi modern ini berjalan secara alamiah. Melalui hubungan perdagangan yang intens antara pedagang muslim Bali dengan pedagang di Jawa telah banyak menimbulkan komunikasi antar-kelompok, yang pada gilirannya memperluas hubungan tersebut, tidak hanya semata-mata soal kebutuhan yang bersifat ekonomi tetapi berkembang ke hal-hal lain.
Dengan seringnya bertukar pikiran antara individu yang menyangkut berbagai hal, sampai bertukar pandangan masalah-masalah keagamaan telah memberi ilham beberapa individu untuk menyebarkan ide-ide pembaharuan di Bali.
Secara resmi organisasi Muhammadiyah di Bali pertama kali berdiri di kota Negara (Jembrana). Hal ini dapat diketahui berdasarkan surat ketetapan dari Muhammadiyah Pusat Yogyakarta, yang menetapkan berdirinya Muhammadiyah Cabang Negara pada tanggal 19 November 1934.
Kepengurusannya dipimpin oleh Abdul Karim Attamimi, seorang dai dan guru agama yang berasal dari Situbondo. Setelah di kota Negara – Bali Barat, menyusul ke arah Bali Utara, yaitu di Singaraja (1939), dan ke Bali Selatan, yaitu Kota Denpasar (1953). Dari kota-kota tempat berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah itu masing-masing memiliki latar belakang dan dinamika tersendiri, baik dalam pertumbuhan maupun dalam perkembangannya. (Bersambung)
*) Amoeng A. Rachman adalah Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PD Muhammadiyah Buleleng
Ket. Foto : Foto bersama Pengoeroes Moehammadijah Tjabang Singaradja, para guru dan siswa Sekolah Moehammadijah Singaradja

