- PAP Bedah Buku Perkembangan Muhammadiyah di Bali (Bagian 2-Habis)
PENGAJIAN Ahad Pagi (PAP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng yang digelar Ahad, 6 Oktober 2024, tampak berbeda. PAP kali ini membedah sebuah buku karya Guru Besar Sejarah Universitas Udayana, Prof. Dr.Phil. I Ketut Ardana.
Pada bagian kedua atau terakhir tulisan akan diulas mengenai semangat kolaboratif para pendiri Muhammadiyah di Bali atau para tokoh awal Muhammadiyah di Pulau Dewata ini.
Pernyataan pembedah Amoeng A. Rachman di awal diskusi bahwa ada kerugian besar jika tidak membukukan sejarah Muhammadiyah di Bali dan kiprah tokoh-tokohnya, mendapat respon dari para peserta PAP bedah buku tersebut.
Peserta yang juga Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng, dr. Rizani, menanyakan kelanjutan dari buku “Perkembangan Muhammadiyah di Bali 1934-1968” karya Prof. I Ketut Ardana tersebut. “Dalam buku ini hanya sedikit ditulis peran Muhammadiyah dalam perkembangan masyarakat di Bali. Apalagi peran Muhammadiyah di Buleleng. Karena itu, saya tanyakan apakah ini ada kelanjutannya,” tanya dr. Rizani.
Menurutnya, perkembangan Muhammadiyah di Buleleng juga harus diteliti dan ditulis. “Sampai saat ini kita tidak tahu mulanya orang yang mendirikan Muhammadiyah di Buleleng. Cuma katanya-katanya saja. Catatannya tidak ada. Juga siapa mendirikan Aisyiyah pertama kali di Buleleng ini. Yang memulai dan mendirikan Aisyiyah,” ujarnya.
Karena itu, dr. Rizani mengajukan tantangan untuk meneliti mengenai Muhammadiyah di Buleleng ini. Sebab, kalau Muhammadiyah sejak dulu ada di Buleleng, tentu Muhammadiyah sudah besar. Karena zaman dulu Singaraja ini pusat pemerintahan di Bali. PWM dulu, kata dia, tentu ada di Singaraja, bukan di Denpasar.
“Juga bagaimana perkembangan HW Laut. Saya pernah dengar dulu HW ini pernah eksis di Buleleng ini. Mungkin karena dulu Buleleng ini pusat pemerintahan. Jadi apa-apa menjadi perhatian. Karena itu, perlu adanya penggalian sejarah Muhammadiyah Buleleng. Kita warga Muhammadiyah Buleleng mendorong ini, agar kita tahu sejarah Muhammadiyah Buleleng. Mungkin berwujud seperti buku ini,” tandas dr. Rizani.
Hal itu senada disampaikan Ustadz H. Imam Syafi’i. Menurut Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng ini, sejarah Muhammadiyah Buleleng harus ditulis dalam bentuk buku. “Bahwa sejarah perkembangan Muhammadiyah Buleleng ini luar biasa. Saya setuju, apa yang disampaikan dr. Rizani. Kalau sejarah Muhamamdiyah di Bali sudah ditulis itu sudah luar biasa. Apakah buku ini sudah masuk di Dinas Kebudayaan atau apa. Kalau sudah masuk kan berarti sudah mnjadi dokumen negara dan menjadi rujukan bagi daerah Bali,” katanya.
Demikian juga sejarah Muhammadoyah di Buleleng sangat perlu ditulis. Kiprah Muhammadiyah seperti apa dari 1939 sampai saat ini. Misalnya peran Muhammadiyah dalam politik, dalam pendidikan. Tentu itu akan luar biasa. Ini menjadi renungan Pak Ketua PDM Buleleng. Sejarah Muhammadiyah Buleleng ini harus ditulis,” ujar Ustadz H. Imam Syafi’i.
Menanggapi dr. Rizani dan Ustadz H. Imam Syafi’i, Amoeng A. Rachman menjelaskan bahwa sejarah Muhammadiyah Buleleng sudah disiapkan. “Saya bersyukur sekali karena belakangan ini baru menemukan foto-foto lama. Namun saya kesulitan, foto-foto itu siapa dan di mana. Kadang-kadang foto lebih banyak berbicara,” jelasnya.
Menurut Amoeng, untuk di Buleleng, pihaknya bersama tim sedang bekerja supaya ada data yang lebih detail. Menurutnya, apa yang disampaikan dr. Rizani benar, bahwa Buleleng pernah menjadi ibukota Provinsi Sunda Kecil.
Dipaparkan, ketika musyawarah kerja Muhammadiyah tahun 1957, Buleleng menjadi tuan rumah. Utusan dari Sumbawa, dari Bima, Lombok datang ke Singaraja.
Waktu itu sudah menjadi Povinsi Nusa Tenggara. Saat itu gubernurnya dijabat Sarimin Reksodiharjo. Ada foto-foto Gubernur Sarimin dengan Pemuda Muhammadiyah.
Amoeng menjelaskan, Muhammadiyah di Buleleng didirikan tahun 1939. Sementara Muhammadiyah pertama didirikan di Bali yakni di Jembrana pada tahun 1934. Itu diiniasi kalangan pedagang. “Kalau di Buleleng didirikan oleh gabungan baik dari pedagang dan kelas birokrat. Salah seorang adalah pegawai landrat atau Kementrian Kehakiman kalau sekarang,” katanya.
Dijelaskan, salah satu tokoh yang mendirikan Muhammadiyah Buleleng adalah seorang hakim di Buleleng dari kalangan priyayi, yakni Raden Mas Patmodiharjo. “Dialah yang inisiatif dengan pedagang yang namanya Pak Yasin. Ada juga pegawai dari KPM, kalau sekarang kementerian kelautan,” ujar Amoeng.
“Lantas pelajaran apa yang bisa dipetik dari buku “Perkembangan Muhammadiyah di Bali 1934-1968” ini?” tanya moderator Muhammad Fardiansyah kepada pembedah kedua, Imaduddin Syamil, S.Pd.
Menurut Imaduddin, buku tersebut bisa menjadi penguat identitas, khususnya bagi para pendidik, untuk ditanamkan ke anak-anak atau siswa sekolah Muhammadiyah. “Ada beberapa pelajaran. Pertama, semangat juang. Para tokoh Muhammadiyah dulu harus menghadapi banyak tantangan. Terutama tantangan Islam tradisional yang sangat menentang dakwah Muhammadiyah saat itu,” jelasnya.
Kedua, kata Imaduddin, tantangan dari umat beragama lain. Ketiga tantangan dari penjajah, Belanda dan Jepang. Bahkan sekolah Muhammadiyah harus ditutup, karena dianggap menyelisihi Jepang dan Belanda. Terkahir, tantangan dari PKI.
“Di buku ini dijelaskan bagaimana para angkatan muda Muhammadiyah bersatu padu untuk membela tanah air di Pulau Dewata,” jelas Kepala SMP Muhammadiyah 2 Singaraja, yang juga aktivis Angkatan Muda Muhammadiyah Buleleng ini.
Pelajaran lainnya, kata Imaduddin, semangat kolaborasi. Semangat kolaborasi ini benar-benar dibangun oleh para tokoh Muhammadiyah terdahulu. Jadi kalau misalnya ada daerah yang masih membutuhkan bantuan, tokoh-tokoh Muhammadiyah menyebar. Misalnya awalnya di Jembrana, kemudian Singaraja dan Denpasar butuh bantuan, semuanya akan menyebar.“Semangat kolaborasi inilah yang harus dilanjurkan bagi kita anak muda Muhammadiyah di zaman sekarang. Semangat kolaborasi dan pantang menyerah yang menjadi titik berat dalam buku ini. Semangat kolaborasi dari para pendiri ini yang harus terus kita rawat sampai sekarang,” tandas Imaduddin. (smb)

