- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
JIKA akal sehat dipelihara, maka jika ada kawan baru, kawan lama ditinggalkan jangan. Dan menjaga betul pertemanan jangan sampai kawan menjadi lawan.
Kalau memang karena kompetisi kita terpaksa mempunyai lawan, maka kita mesti terus waspada, agar lawan tidak mempecundangi kita, menelikung kita, dan tipu tipu kita. Saling menghormati kepada kawan beda dengan menghormati kepada lawan. Dalam agama pihak kawan disebut rahmatullah dan pihak lawan disebut laknatullah.
Hidup tidak selalu hitam putih, ada pula yang abu-abu, antara hitam dan putih. Kita tetap waspada jika ada lawan yang bersikap seperti teman. Kita pasti siaga. Ada apa ini? Pasti ada maunya.
Tapi kita tidak akan pernah bisa menduga, jika kawan lantas menikam kita diam-diam dari belakang. Layaknya musuh jahanam. Sampai ada pemeo musuh dalam selimut, saking mustahilnya. Hasilnya memang lebih mematikan.
Ajaran ini kita pelajari sejak kita masih taman kanak-kanak sampai sekolah tertinggi lewat pelajaran budi pekerti, akhlak dan bela negara.
Jika lantas dalam bernegara kita melihat dulu teman seiring sejalan, seperahu sepedayungan lantas lompat ke perahu lain milik lawan. Akal sehat kita pasti tercederai.
Dulu memaki-maki lewat akun Fufufafa lantas sekarang menjadi wakilnya lewat cara-cara yang mengabaikan etika. Akal sehat mana yang bisa menerima.
Masih belum cukup. Kurang sebulan lengser keprabon – istilah ini memang untuk raja- masih saja bermanuver untuk mencari tempat aman setelah menjadi mantan Presiden, dengan menggusur kepengurusan Kadin yang sah. Mengadakan Munaslub lantas menempatkan anak tokoh Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie, Anindya menjadi ketum. Memang ketum Kadin yang digusur Arsjad Rasjid yang kemarin menjadi Ketua Timses Paslon 03. Langkah Arsjad menjadi ketua timses meniru langkah Erick Thohir saat Pemilu 2019 lalu. Erick lantas diangkat menjadi Menteri BUMN.
Langkah Jokowi mengkudeta Golkar dan Kadin ditengarai barter politik Jokowi dengan Aburizal Bakrie untuk mencari posisi bagi dia dan kalau tidak anaknya untuk menduduki posisi penting di Golkar. Kalau tidak ketum ya ketua Dewan Pembina. Jangankan AD/ART partai atau Kadin. Undang-undang saja bisa diubah atas nama kuasa.
Langkah Jokowi ini menambah daftar kebencian orang kepada Presiden paling tidak masuk akal ini. Keadaan jadi tidak menentu, perilaku tertib menjadi berkurang. Terlihat saat pelaksanaan PON, tuan rumah Sumut dan Aceh menggunakan segala macam cara agar mendapatkan medali. Kecurangan sangat mencolok sampai menimbulkan protes yang nyaris rusuh. Pansus Haji menemukan akomodasi dan katering yang tidak sesuai. Mestinya dibenahi malah menimbulkan rivalitas.
Jika akal sehat dikesampingkan, yang muncul kemudian akal bulus. Sangat merugikan kemajuan negara kita. Budaya saling menghormati berubah saling memaki. Perlu waktu tidak sebentar untuk mengembalikan Indonesia ke jalur: “Gemah ripah loh jinawi, toto tentrem karto raharjo”. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

