- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
DUA ribu tahun sudah tahun Masehi. Lebih dua puluh empat tahun. Konflik di Timur Tengah dengan Israel tidak kunjung padam. Masing-masing ingin saling melenyapkan.
Seumur tahun Masehi. Hanya 200 tahun saja masa damai, selebihnya saling menghunus senjata. Tiga agama samawi yang turun dari langit, dengan tuhan yang sama, berperang tidak ada habisnya.
Di tengah situasi dunia yang seperti itu, Sri Paus Fransiskus datang ke Indonesia untuk kunjungan resmi kenegaraan ke empat negara: Indonesia, Singapura, Papua Nugini dan Timor Leste. Penuh kesederhanaan. Paus asal Argentina ini menyalami banyak orang, mengunjungi Masjid Istiqlal, bertemu Presiden, menginap di Kedutaan Vatican di Jakarta seperti kunjungan dua Paus sebelumnya: Paus Yohanes II Oktober 1989, dan yang pertama Paus Paulus VI Desember 1970.
Paus Fransiskus menjalankan apa yang disebut apostolik: misi kerasulan lewat jalan damai, persamaan hak, menghormati perbedaan dan penuh kesederhanaan. Sifat tamak dan rakus penyebab buntunya perdamaian.
Paus Fransiskus menandatangani pakta kesepahaman dengan Imam Besar Masjid Al Azhar Mesir yang diharapkan bisa meredakan konflik di dunia global. Saat di Jakarta, hal yang sama dilakukan Sri Paus, saat berkunjung ke Imam Besar Masjid Istiqlal, Nazarudin Umar.
Sri Paus memuji “Pankasila” (logat Sri Paus mengeja Pancasila) sebagai perayaan kemenangan atas perbedaan. Sementara Imam Masjid Istiqlal menyebut Masjid Istiqlal bukan hanya rumah bagi kaum muslim, tapi rumah besar kemanusiaan. Adem rasanya melihat tokoh umat saling melempar pesan damai.
Kunjungan apostolik Sri Paus selanjutnya ke Papua Nugini, lantas ke Timor Leste, 9 -11 September. Menariknya, karena jarak NTT ke kota Dili relatif dekat, 700 sampai 800 orang NTT umumnya, Atambua khususnya, mengurus paspor untuk bisa mengikuti Misa Sri Paus.
Kesederhanaan Sri Paus Fransiskus sangat terlihat sekali. Ke mana-mana diantar mobil Toyota Zenix milik Kedutaan Vatican di Jakarta. Tidak menyewa Toyota Alphard seperti kendaraan tamu-tamu di IKN, saat upacara 17 Agustus. Presiden Jokowi juga menggunakan mobil Toyota Zenix menyesuaikan.
Jika bertemu Sri Paus, selera humornya membuat suasana wawancara seperti stand up comedy : ketika ditanya apa rahasia Sri Paus tetap bugar, sementara jadwal kunjungan sangat padat? Dijawab: “Saya cuma duduk, mereka yang bekerja”. Sambil menunjuk 8 orang stafnya.
Dengan para stafnya, Sri Paus tidak menjaga jarak. Apa yang menu Sri Paus makan, sama dengan stafnya. Tidak jarang Sri Paus menyodorkan piring kue ke stafnya yang belum mencicipi. “Ayo dimakan”.
Menu Sri Paus juga sangat sederhana, buah segar, capucino hangat dan roti renyah. Pesawat yang ditumpangi juga pesawat komersial penumpang biasa. Tidak menggunakan jet pribadi. Halaman muka Majalah Tempo memasang gambar Paus yang lagi menyantap mie instan saat menempuh perjalanan panjang Roma – Jakarta.
Kunjungan Paus meninggalkan pesan moral yang sangat kuat: kesederhanaan dan penghormatan. Di depan Presiden Jokowi, pidato Sri Paus mengingatkan tentang bahaya kekuasaan yang memaksakan penyeragaman misi sehingga menimbulkan kekerasan dalam bernegara.
Umat Islam berhasil menunjukkan toleransinya ketika Sri Paus mengadakan Misa Kudus, Kamis 5 September 2024, jam 17.00 – 19.00. Adzan maghrib di televisi yang biasanya berkumandang diganti running text. Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan hidup rakyat Indonesia untuk bertoleransi.
Pengurus Pusat Muhammadiyah juga mengeluarkan pernyataan sikap menyambut kedatangan Sri Paus dengan penuh keramahan dan kesopanan. Sebagai layaknya budaya luhur bangsa.
Indonesia memang unik: ada provinsi Islam, provinsi Katolik, provinsi Hindu. Dihadapi dengan bercanda: kenapa di NTT jarang orang Islam ? Karena NTT tandus, sulit air. Jangankan untuk berwudhu 5 kali sehari. Untuk minum saja susah…. he… he… he …. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

