Islam Tegallinggah Bali

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

MEMBELI buku lewat Shopee berjudul “Islam Tegallinggah Bali” terasa lucu. Saya tinggal di Tegallinggah, beli buku tentang Islam di desa saya, kenapa penjualnya dari Medan. Jaman digital memang yang tidak mungkin menjadi mungkin. 

Buku ini ditulis oleh delapan pemuda desa yang peduli atas keberadaan desanya. Mereka ingin tahu dari mana nenek moyang mereka. Kapan datang ke desa. Lewat jalur mana? 

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat mereka bergerak untuk menelusuri sejarah nenek moyang mereka dan kemudian disusun dalam bentuk buku. 

Ada beberapa desa muslim di Buleleng Bali, di antaranya Pegayaman dan Tegallinggah. Dua desa muslim ini terpisah jarak 15 sampai 20 km. Bapak mertua saya lahir di Pegayaman, 7 km selatan Singaraja arah Bedugul. Ibu mertua lahir di Tegallinggah, 7 km barat Singaraja arah Seririt. Hanya 5 km dari Lovina. 

Begitulah banyak yang berjodoh antara Pegayaman dan Tegallinggah atau intra desa. Kebiasaan setelah menempuh madrasah ibtidaiyah mondok di Jawa, membuat perkembangan muslim semakin signifikan. Banyak yang lantas berjodoh dengan orang Jawa atau Madura. Lantas menetap di Bali. 

Jalur kedua lewat pulau Lombok. Banyak mahasiswa asal Lombok di Bali. Mereka biasanya lantas berjodoh dengan muslim Tegallinggah atau Pegayaman. 

Menikah di Buleleng sangatlah simpel. Tidak perlu katering mahal untuk prasmanan seperti di Jawa. Cukup nasi kotak plus snack yang dikemas menjadi berkat. Datang ke tempat pesta pernikahan, isi buku tamu. Dapat berkat. Masuk ke gedung. Mendengar pengajian, mungkin ada hiburan, doa, selesai. 

Nasi kotak “mewah” seharga Rp 20 ribu plus snack seharga Rp 4 ribu bisa kita nikmati di rumah. Kalau kita mengundang 500 tamu undangan, cukup untuk konsumsi Rp 12 juta saja. Lagi pula jika yang diundang suami, istri tidak boleh ikut. Sebaliknya istri yang diundang suami diam di rumah. Di Jawa menghadiri undangan musti serimbit.   

Makanya jomblowan jomblowati jangan menutup diri kepada muslim Bali. Karena tinggal di daerah minoritas dianggap Islam asal-asalan, abangan, justru mereka bisa mengaji karena terdidik sejak kecil di madrasah, lantas mondok. Nikahnya juga tidak ribet. Mereka sadar, Bali jujugan wisata, mereka harus berwawasan global. Kombinasi yang bagus. 

Islam masuk ke Bali lewat tiga jalur: Jawa, Lombok dan Bugis. Ketika Kerajaan Gelgel di Klungkung ditaklukkan Majapahit. Saat menghadap Raja Majapahit 1434. Pulang ke Bali dibekali 40 punggawa yang semuanya Islam. Untuk menghormati para punggawa Kerajaan Majapahit itulah mereka diberi tempat pemukiman yang sekarang disebut Gelgel.

Gelombang kedua terjadi abad ke-17. Ketika Raja Panji Sakti menduduki Blambangan. Sepulang dari Blambangan, Raja Panji Sakti merekrut 100 laskar, dan membawanya ke Buleleng. Para laskar itu kemudian ditempatkan di wilayah bukit yang sekarang bernama Desa Pegayaman.

Dalam sejarah tercatat, Kerajaan Blambangan pernah diduduki Kerajaan Gelgel, Buleleng dan Mataram. Saat menyerbu Blambangan 1648, juga disebutkan Raja Panji Sakti dibantu masyarakat Bugis dan Mandar yang ada di Teluk Prampang Banyuwangi. Warga Bugis itulah yang kemudian ikut Raja Buleleng dan berdiam di Tegallinggah sekarang.

Karena Kerajaan Blambangan menjadi bagian Kerajaan Buleleng. Banyak orang dari Blambangan mutasi ke sisi barat Kerajaan Buleleng. Tidak heran banyak masjid besar dan megah sepanjang jalur pantura Bali.

Begitulah buku setebal 252  halaman ini tidak cukup dengan sekali resensi. (Bersambung)

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *