- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
ANAK muda harus membaca majalah Tempo edisi khusus kemerdekaan terbitan 19 Agustus 2024 ini. Tahun ini, Tempo menerbitkan dua kali edisi khusus.
Yang pertama awal Agustus tentang Nawadosa Jokowi. Kedua edisi khusus Tempo ini menjadi dokumen sejarah penting bangsa Indonesia. Apalagi jika anda aktivis dan kebetulan menjadi anggota dewan. Wajib membaca sejarah perjuangan Mohammad Hoesni Thamrin (MH. Thamrin).
Anak gedongan yang memperjuangkan orang miskin di Jakarta. Menyuarakan kepentingan pribumi. Menolak ajakan Belanda untuk bikin panitia persiapan kemerdekaan.
Peran MH Thamrin juga nampak ketika Sekolah Taman Siswa ditutup Belanda dengan memberlakukan pajak tinggi. MH Thamrin menyerukan perlawanan dengan mengumpulkan koin demi koin. Dan akhirnya penguasa Belanda menyerah, Sekolah Taman Siswa dibuka kembali.
Volksraad dibentuk Belanda tahun 1919 beranggotakan 36 orang. 15 di antaranya pribumi. Namun dalam perkembangan selanjutnya, anggota pribumi menjadi lebih banyak.
Sejak jaman Volksraad atau DPR versi Belanda, selalu jadi bahan olok-olok, sering diejek sebagai dewan omong. Karena yang menjadi anggota Volksraad adalah orang-orang yang membebek kepada Belanda. Datang duduk diam duit dusta sudah menjadi langgam anggota Volksraad.
Muncul kemudian MH Thamrin yang dicatat sejarah menjadi anggota dewan beneran. Berjuang secara konkret dan dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil yang tinggal di lingkungan kumuh di pinggiran kali Ciliwung yang membelah kota Jakarta.
MH Thamrin juga menolak petisi sesama anggota Volksraad, Soetarjo yang kooperatif dengan Belanda mau membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. MH Thamrin lantang menyuarakan keinginan merdeka sekarang juga. Dengan menempuh perjuangan sendiri. Menolak diberi-beri.
MH Thamrin juga memanfaatkan sepakbola untuk mempersatukan rakyat menentang penjajah. Dia menyumbangkan tanahnya untuk dibuat lapangan sepakbola yang menjadi cikal bakal Persija.
Dan ini membuat Belanda gerah. MH Thamrin menjadi tahanan rumah ketika sedang sakit demam tinggi. Tidak lama berselang, 12 Januari 1941, MH Thamrin wafat, secara misterius. Koran Keng Po edisi 13 Januari besoknya menulis, para pelayat yang datang sekitar 20 ribuan orang memenuhi jalan dari rumah duka ke pemakaman karet. Seperti pemakaman raja. Rakyat kecil berduka, menitikkan air mata. Anggota dewan yang berjuang untuk rakyatnya.
Selanjutnya Keng Po menulis : “Berdjoebel-djobel, bertjutjuran keringat, sedeng aken bergerak poen soesah.”
Wahai anggota dewan di seluruh Indonesia, bacalah sejarah MH Thamrin. Bukalah wawasan dan nurani. Rakyat butuh wakil rakyat seperti MH Thamrin.
Jangan turuti kemauan para penguasa yang tidak memikirkan rakyat dan selalu menekan, seperti yang sering diucapkan pecatur Banyuwangi Tamrin kepada lawan mainnya: “Lempar handuk ????” []
*) Penulis adalah Ketua LBSO PD Muhammadiyah Buleleng

