- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd
DALAM rangka hari ulang tahun Kemerdekaan RI yang ke-79, diadakan Open Turnamen Catur di Ubud, Gianyar, Bali. Open turnamen boleh diikuti siapa saja. Bergelar master atau belum. Karena di Ubud pada khususnya dan Bali pada umumnya adalah destinasi wisata maka Turnamen Ubud diikuti bule yang lagi menetap di Bali.
Antara lain namanya Timofel Fisher. Mungkin terinspirasi jenius catur Amerika Boby Fisher. Biasanya orang Rusia namanya Wawanov, Yusufov atau Faizov. Atau bisa jadi nama belakang Fisher khas Yahudi. Bocah 10 tahun ini menarik perhatian karena masuk 5 besar. Dan nyaris juara.
Di Bali, populasi turis terbesar ditempati India dan Rusia. India – kita tahu- kedekatan kultur. Ada hampir 60 ribuan turis India menetap di Bali. Tidak jarang kita mendapati restoran India dengan makanan khas Masala Dosa, Dal Makhani dan Paratha.
Turis Rusia banyak menetap di Bali karena Rusia dilanda perang. Ada juga turis Ukraina, tapi tidak sebanyak Rusia. Saking banyaknya turis asal Rusia, di bilangan Canggu sampai ada daerah disebut Blok Rusia dan tergambar di peta Bali. Tentu membuat Pemkab Badung uring- uringan.
Masalah timbul ketika visa turis dipakai usaha: rental kendaraan, butik, dan lain-lain, bekerja sama dengan penduduk lokal.
Timofel finish di peringkat 5 setelah di babak ketujuh kalah dengan juara pertama jebolan Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Raden Safiudin. Sementara teman dekatnya, WPM (Women Percasi Master) Nonia Andik Wulandari finish di urutan 21.
Sebelumnya di babak 6, bocil Rusia ini mengalahkan pemain terkuat asli Bali MN Ketut Sane. Luar biasa kadang duduk, kadang berdiri untuk memainkan buah catur. Seolah percaya diri tidak terkesan rasa takut sedikitpun.
Sementara itu ada juga yang menarik perhatian dari peserta yang datang dari Taliwang, pulau Sumbawa. Harus dua kali menyeberang pulau untuk datang di turnamen. Dari Pototano ke Kayangan sekitar 2 jam. Menempuh 90 km menuju Lembar. Nyeberang 4 jam ke Padangbai lantas ke Ubud, motoran.
Cerita Pak Bambang Suryadi yang kelahiran 1965 ini membuat saya mikir. Ternyata ada yang lebih nekat lagi dibanding saya. Motivasi Pak Bambang jalan-jalan. Dia datang lebih awal dan masih beberapa hari setelah turnamen.
Kalau motoran ekonomis katanya. Pak Bambang janji akan mengundang saya jika ada turnamen di Sumbawa. Saya ho-oh saja. Padahal motivasi terbesar saya jalan-jalan juga. Kalau turnamen di daerah baru yang belum pernah dikunjungi saya siap saja. Tapi kalau sudah pernah apalagi sering, pikir-pikir dulu. Karena gak happy sewaktu menyusuri jalanan.
Kalau nanti ada alasan lebih baik karena sering gagal juara akan saya tulis kembali. Saatnya menuju gantung pion. []
*) Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

