- Oleh dr. Rizani, M.Ked.
TENDINOPATI siku lateral (Lateral Elbow Tendinopathy, LET), yang biasa dikenal sebagai tennis elbow, adalah kondisi yang sering terjadi dan ditandai dengan rasa sakit dan nyeri di sekitar epikondilus lateral humerus. Hal ini sering menyebabkan keterbatasan fungsional yang signifikan dan menurunnya partisipasi dalam aktivitas.
LET biasanya diakibatkan oleh kelebihan beban pada ekstensor pergelangan tangan yang umum, mengarah pada perubahan tendon degeneratif, pembentukan jaringan parut, dan hipervaskularitas.
LET terutama mempengaruhi jaringan muskuloskeletal di sekitar siku dan umum terjadi pada individu yang melakukan gerakan pergelangan tangan dan lengan secara berulang. Gejala utama meliputi nyeri di atau dekat epikondilus lateral, nyeri tekan, dan penurunan fungsi. Faktor risiko termasuk kelebihan beban biomekanik dan kondisi sistemik seperti hiperkolesterolemia, diabetes, ketidakseimbangan hormon, usia, dan predisposisi genetik.
Program Rehabilitasi Komprehensif
Strategi rehabilitasi komprehensif untuk LET melibatkan pendekatan multimodal yang menargetkan disfungsi lokal dan kelemahan otot skapula proksimal. Program ini terdiri dari pemanasan aktif, penguatan otot skapula, penguatan pergelangan tangan dan siku, mobilisasi sendi, pendidikan pasien, dan intervensi tambahan seperti krioterapi dan mobilisasi jaringan lunak.
Pemanasan Aktif
Pemanasan aktif sangat penting untuk meningkatkan kinerja otot dan meningkatkan suhu jaringan lunak. Pilihannya termasuk menggunakan ergometer tubuh bagian atas (UBE) atau treadmill. UBE lebih disukai karena langsung melibatkan anggota tubuh bagian atas, tetapi treadmill dapat digunakan untuk pasien dalam fase akut untuk secara tidak langsung meningkatkan suhu ekstensor pergelangan tangan. Durasi pemanasan tidak boleh >10 menit.
Penguatan Otot Skapula
Berdasarkan studi elektromiografi (EMG), algoritme penguatan bertahap diusulkan:
Fase 1: Pelatihan Neuromuskular
Tujuan: Rekrutmen motorik dari serratus anterior, trapezius bawah, rhomboid, dan trapezius tengah.
Latihan: Latihan isometrik dan isotonik, termasuk retraksi skapula, wall slides, dan kompresi tulang belikat.
Repetisi: Lakukan setiap latihan tanpa reproduksi gejala dan teknik yang tepat untuk tiga set masing²-masing 10 repetisi.
Fase 2: Beban Ringan hingga Sedang
Tujuan: Meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot.
Latihan: Latihan resistensi menggunakan beban ringan hingga sedang, seperti resistance bands atau dumbbell ringan, dengan fokus pada retraksi skapula dan serratus anterior punches.
Repetisi: Tiga set masing-masing 15 repetisi dengan istirahat 60 detik di antara set.
Fase 3: Beban Sedang hingga Berat
Tujuan: Meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot dengan resistensi yang lb.tinggi & lengan tuas yg lb.panjang.
Latihan: Latihan resistensi dengan beban sedang hingga berat, termasuk single-arm rows dan push-ups plus.
Repetisi: Tiga set masing² 15 repetisi, meningkatkan resistensi berdasarkan respons pasien dan tidak adanya nyeri pasca-latihan.
Kriteria Progresi:
Fase 1 ke Fase 2: Menunjukkan kemampuan untuk melakukan retraksi skapula dengan postur kepala yang benar selama 20 repetisi.
Fase 2 ke Fase 3: Melakukan single-arm rows dengan 10 lbs tanpa nyeri atau substitusi.
Penguatan Pergelangan Tangan dan Siku
Fase 1: Pendidikan Neuromuskular
Tujuan: Rekrutmen otot ekstensor pergelangan tangan dan deviasi radial.
Latihan: Kontraksi isometrik dan isotonik, seperti wrist curls dan latihan deviasi radial.
Repetisi: Lakukan setiap latihan untuk tiga set masing-masing 10 repetisi tanpa reproduksi gejala.
Fase 2: Beban Ringan hingga Sedang
Tujuan: Menguatkan dan membangun daya tahan otot dengan beban ringan hingga sedang.
Latihan: Latihan ekstensi pergelangan tangan konsentris dan eksentris menggunakan resistance bands atau dumbbell ringan.
Repetisi: Tiga set masing-masing 15 repetisi dengan istirahat 60 detik di antara set.
Fase 3: Beban Sedang hingga Berat
Tujuan: Lebih meningkatkan kekuatan dan daya tahan otot.
Latihan: Latihan resistensi berat, termasuk wrist roller exercises dan weighted wrist extensions.
Repetisi: Tiga set masing-masing 15 repetisi, menyesuaikan resistensi berdasarkan toleransi pasien dan tidak adanya nyeri pasca-latihan.
Kriteria Progresi:
Fase 1 ke Fase 2: Rentang gerak aktif pergelangan tangan penuh dan ekstensi pergelangan tangan isometrik tanpa nyeri.
Fase 2 ke Fase 3: lakukan 20 repetisi ekstensi pergelangan tangan konsentris/eksentris dengan siku tertekuk dan lengan bawah didukung dalam pronasi.
Mobilisasi Sendi
Mobilisasi sendi bertujuan untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan rentang gerak. Tekniknya meliputi mobilisasi dengan gerakan (MWM) dan glide anterior dari kepala radial. Teknik-teknik ini telah terbukti mengurangi nyeri dan meningkatkan kekuatan genggaman pada pasien LET.
Teknik:
Mobilisasi dengan Gerakan (MWM): Glide lateral manual dari ulna/radius saat pasien melakukan genggaman tanpa nyeri atau ekstensi siku.
Glide Anterior Kepala Radial: Dilakukan tanpa gerakan aktif dari pasien, bertujuan untuk meningkatkan mobilitas sendi.
Bukti: Tinjauan sistematis dan meta-analisis mendukung efektivitas teknik MWM dalam mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi hingga tiga bulan setelah perawatan.
Edukasi Pasien
Edukasi adalah komponen penting dalam rehabilitasi LET.
Poin utama meliputi:
Istirahat: Istirahat dari aktivitas yang meningkatkan beban tendon dan memperparah nyeri.
Modifikasi: Gunakan pegangan yang lebih besar pada alat dan lakukan penyesuaian ergonomis di area kerja.
Aktivitas: Hindari gerakan pergelangan tangan, lengan bawah, atau siku yang berulang dan konsultasikan dengan pelatih untuk mengoreksi mekanik yang salah dalam olahraga.
Peralatan: Gunakan counterforce braces untuk meningkatkan ambang nyeri tekan dan memungkinkan penyembuhan insersi tendon proksimal yang cedera.
Intervensi Tambahan
Krioterapi: Efektif dalam mengurangi nyeri lokal melalui vasokonstriksi dan teori kontrol gerbang. Ice massage atau ice packs dapat digunakan setelah perawatan.
Mobilisasi Jaringan Lunak: Teknik seperti deep friction massage dan myofascial release dapat mendorong penyembuhan jaringan dan mengurangi nyeri lokal.
Kesimpulan
Pendekatan rehabilitasi komprehensif dan multimodal sangat penting untuk mengelola LET secara efektif. Dengan mengintegrasikan penguatan skapula dan pergelangan tangan/siku, mobilisasi sendi, pendidikan pasien, dan intervensi tambahan, profesional kesehatan dapat memberikan perawatan holistik yang mengatasi disfungsi lokal dan proksimal. []
*) Penulis adalah Wakil Ketua PD Muhammadiyah Buleleng

