Idul Adha Bukan Sekadar Menyembelih Hewan, Tapi “Menyembelih” Dendam dan Kebencian

SuaraMu Buleleng – Idul Adha hadir bukan hanya untuk menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih cinta dunia yang sudah terlalu kuat mencengkram hati. Demikian antara pesan yang disampaikan Ustadz Bakhtiar dalam khutbah Idul Adha-nya pada Sholat Idul Adha 1446 H yang digelar PD Muhammadiyah Buleleng, di Pelabuhan Tua Buleleng, Jumat (6/6/2025).

Menurut Ustadz Bakhtiar, Idul Adha harus dijadikan momentum untuk membelah hati. Pertama, membelah hati yang terlalu cinta dunia.

“Kita semua butuh dunia. Butuh makan, pakaian, rumah, kendaraan, dan pekerjaan. Tapi yang berbahaya adalah saat hati kita terlalu cinta pada dunia, sampai-sampai lupa pada akhirat. Idul Adha hadir bukan sekadar untuk menyembelih hewan, tapi juga menyembelih cinta dunia yang sudah terlalu kuat mencengkeram hati,” katanya.

Ustadz Bakhtiar memberi contoh Nabi Ibrahim. Dikatakan, Nabi Ibrahim diuji bukan dengan harta atau jabatan, tapi dengan sesuatu yang paling dicintainya: yakni anak kandungnya sendiri, Ismail. Namun, karena cintanya kepada Allah lebih besar, Nabi Ibrahim rela melepaskan semuanya. “Inilah makna qurban yang sesungguhnya yakni berani meletakkan Allah di atas segalanya, bahkan di atas apa yang paling kita sayangi,” ujarnya.

Kata dia, dalam kehidupan sekarang, cinta dunia yang berlebihan bisa terlihat dari cara orang bekerja. Ada yang bekerja siang malam, tapi shalat dilupakan. Ada yang sibuk menumpuk harta, tapi lupa sedekah. Bahkan tak sedikit orang yang menipu, korupsi, atau menghalalkan segala cara hanya demi uang.

“Kita begitu sibuk mengejar angka, harta, jabatan, pengikut, gelar, status. Tanpa sadar, kesibukan itu telah melalaikan kita dari tujuan hidup yang sejati, yaitu beribadah kepada Allah, mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang abadi. Kita baru akan berhenti mengejar dunia ketika tubuh ini dibaringkan di liang lahat. Saat itulah semua yang dibanggakan tak lagi berarti, harta ditinggalkan, jabatan dihapus, hanya amal yang dibawa”.

“Kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengejar apa yang tampak, harta, prestise, jabatan, pujian manusia. Kita merasa bangga ketika lebih dari orang lain, lupa bahwa semua itu tidak pernah menjadi tujuan akhir,” tandasnya.

Lebih menyedihkan lagi, kata Ustadz Bakhtiar, kita tidak lalai karena dosa besar, tapi karena kesibukan dunia yang kita anggap wajar. Tanpa sadar, hati kita menjadi kosong dari Allah, dan waktu kita habis dalam perlombaan yang tidak ada garis finishnya. Kita tertipu, bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu larut mengejar dunia yang fana, sampai lupa bahwa umur ini sedang terus berkuran dan bukan bertambah.

“Semua kesibukan itu akan berhenti bukan karena kita puas, tapi karena kita mati. Dan saat tubuh terbujur kaku, dibawa ke pemakaman, dan dimasukkan ke dalam liang lahat barulah perlombaan dunia itu berakhir. Tapi bukan berakhir dengan kemenangan, melainkan dimulai dengan hisab dan penyesalan,” terangnya.

Ustadz Bakhtiar mengajak jamaah kita belajar dari Nabi Ibrahim. “Kita qurban bukan hanya kambing atau sapi, tapi juga ego dan cinta dunia yang berlebihan. Kita mulai dari hal kecil, kurangi keserakahan, tingkatkan volume kuantitas dan kualitas ibadah, memperbanyak sedekah, serta luangkan waktu untuk keluarga,” tegasnya.

Kedua, jelas Ustadz Bakhtiar, membelah hati yang penuh dendam dan kebencian. Menurutnya, kita ini seringkali mudah tersinggung, tapi sulit memaafkan. Sekali orang menyakiti kita, rasa benci bisa menetap lama di dalam hati. Padahal hidup dengan membawa dendam hanya akan membuat hati kita berat, pikiran jadi gelap, dan keberkahan hidup menjauh.

“Idul Adha adalah waktu yang tepat untuk melepaskan semua itu. Jika hewan bisa kita sembelih demi Allah, mengapa hati yang penuh kebencian tidak bisa kita sembelih demi kedamaian?” tanyanya.

Menurutnya, mungkin di antara kita ada yang bertahun-tahun tidak saling sapa dengan tetangga, saudara, atau bahkan orang tua sendiri. Hanya karena masalah warisan, salah paham, atau ucapan yang melukai. Padahal jika kita mati hari ini, tidak akan berguna permusuhan itu. Maka momen Idul Adha adalah waktu terbaik untuk meleburkan hati. Bukan hanya menyembelih hewan, tapi juga menyembelih dendam yang menyumbat jalan kasih sayang diantara kita.

“Mari kita jadikan momentum Idul Adha ini dengan melakukan satu langkah nyata, yakni hubungi kembali orang yang pernah menyakiti, atau orang yang pernah kita sakiti. Ucapkan maaf, atau terima maaf. Jangan tunda. Karena bisa jadi, menyembelih kebencian itu jauh lebih sulit daripada menyembelih kambing, tapi ganjarannya jauh lebih besar di sisi Allah,” jelasnya.

Ketiga, lanjut Ustadz Bakhtiar, membelah hati yang pelit dan kikir Menurutnya, banyak orang bekerja siang dan malam, banting tulang mencari rezeki, mengumpulkan harta, ber investasi dimana mana, akan tetapi ketika diminta berkurban, bantu masjid, atau menolong orang yang sedang kesusahan, beratnya bukan main. Padahal, kebaikan sejati tidak bisa dicapai hanya dengan ucapan atau niat baik. Harus ada pengorbanan nyata, terutama dalam hal yang kita cintai, yaitu harta. Idul Adha datang untuk melatih kita agar tidak diperbudak oleh uang, tapi justru menjadikan harta sebagai jalan menuju surga.

“Coba kita renungkan, berapa banyak orang yang lebih rela membeli barang mewah, mencicil kendaraan tiap bulan yang cicilan perbulannya seharga harga kambing, akan tetapi berqurban satu kambing yang hanya sekali setahun merasa berat. Inilah ketika seseorang sudah menjadi hamba harta dan budak dunia. Mereka kira hartanya yang akan mengekalkan dirinya di dunia, padahal sejatinya segala harta benda yang kita miliki semuanya sifatnya semu, fana dan bersifat sementara,” ujarnya.

Sementara keempat, kata dia, membelah hati yang tak sabar dan tak rela pada takdir Allah. Ustadz Bakhtiar mengatakan, dalam hidup ini, tidak semua berjalan sesuai keinginan kita. Kadang kita diuji dengan kehilangan, sakit, gagal, atau bahkan doa-doa yang belum juga terkabul. Saat itulah banyak hati yang goyah. Kita mulai bertanya-tanya, “Kenapa harus saya?”, “Kenapa hidup saya begini?”, dan bahkan sampai merasa kecewa kepada Allah. Padahal, Idul Adha mengajarkan kepada kita untuk belajar menerima dan ridha terhadap apa pun yang Allah tetapkan, walau terasa pahit.

“Coba bayangkan, bagaimana jika kita berada di posisi Nabi Ibrahim yang diminta menyembelih anaknya sendiri? Atau berada di posisi Nabi Ismail yang dengan tenang menerima takdir itu. Keduanya tidak mengeluh, tidak protes, bahkan tidak menawar perintah Allah. Mereka patuh dengan hati yang penuh shabar dan lapang dada. Ini bukan kisah dongeng, ini pelajaran besar bagi kita yang kadang baru diuji sedikit sudah merasa hidup ini tak adil,” katanya.

Dan terakhir, kelima, membelah hati yang lupa akhirat dan malas beramal. Dipaparkan, banyak di antara kita terlalu sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa hidup ini punya tujuan yang lebih besar, yaitu akhirat. Kita sibuk kerja pagi sore, bangun rumah, cari proyek, urus usaha, tapi lupa memperbaiki shalat, menunda sedekah, atau merasa belum sempat membaca Al-Qur’an.

Padahal, kata Ustadz Bakhtiar, semua kesibukan itu akan selesai saat napas telah berhenti. Maka di hari Idul Adha yang mulia ini, mari kita bangunkan hati yang tidur, diri yang lalai, kita belah hati yang lupa pada akhirat.

“Ibadah urban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi latihan menanam amal untuk kehidupan yang abadi. Daging dan darah hewan kurban itu tak akan sampai ke langit. Tapi keikhlasan, ketakwaan, dan amal kita yang, itulah yang akan naik ke sisi Allah. Maka jangan menunda-nunda berbuat baik. Jangan menunggu nanti kalau sudah tua, nanti kalau sudah tidak sibuk, nanti kalau sudah pensiun, dan nanti nanti yang lainnya. Intinya jangan pernah ada kata nanti dalam berbuat kebaikan untuk berubah, karena maut dan kematian tidak pernah mengenal kata nanti,” tandasnya. (smb)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *