- Oleh Qanita Adila Rasyida
PADA tiga hari awal Lebaran, aku sibuk berburu THR. Tidak ada yang spesial pada hari itu, karena tidak ada bedanya dengan Lebaran pada tahun-tahun kemarin.
Pada hari keempat aku hanya diam di rumah, menonton serial Netflix di televisi sambil memakan kue kering yang distok bunda. Aku menguap beberapa kali, helaan nafas berat mengiringi. Aku bosan, tidak ada yang menarik, tidak ada hal seru yang bisa dilakukan. Namun, seruan ayah dan bunda dapat membelalakkan mata.
“Sabtu kita ke Banyuwangi,” begitu ucap ayah dan bunda. Dan sekarang, tepat pukul 06.00 pagi aku sudah berada di elf dengan keluargaku yang lain. Saat supir mulai mengendarai elf, lagu pun diputar untuk menemani perjalanan kami.
Lagu berjudul “Sakit Gigi”, yang tentu saja bukan selera anak jaman sekarang, memenuhi pendengaran. Cukup lama lagu-lagu lawas sezaman “Sakit Gigi” itu diputar. Pelupuk mataku mulai terasa berat dan akhirnya aku tertidur dengan posisi bersandar di pangkuan ayah.
Saat sampai di Pelabuhan Gilimanuk perutku terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu, rasa menggelitik yang mereka ciptakan seolah membuat tersenyum tanpa henti. Bau laut dan besi-besi pada kapal membawa kenangan lama hadir kembali. Gambar dan video yang baru saja kuambil menjadi pemandangan terindah yang berhasil kuabadikan hari itu. Laut biru yang dihiasi buih putih mengkilap serta gumpalan awan acak.
Saat sampai di kota “Air Wangi” itu, aku dan keluarga langsung bersilaturahmi ke rumah salah satu nenekku. Sesi melepas rindu selesai, saatnya kembali berpetualang. Selanjutnya kami makan siang di salah satu rumah makan paling digemari keluargaku, Mbok Wah.
Aku menyantap rajungan yang sudah dipesan. Seakan berada di tempat baru yang tak dikenal, namun dibuat terpesona pada pandang pertama. Ledakan rasa dan sensasi baru menyapu lidah. Nikmat.
Perut kenyang, hati pun senang. Perjalanan berikutnya menuju Taman Sri Tanjung. Tidak banyak yang kulakukan di sini, hanya berkeliling dan mengabadikan hal yang sekiranya cocok untuk menambah koleksi gambar unikku.
Tak lupa membeli es krim mix 3 rasa, vanila, coklat, stroberi. Kemudian berkenalan dengan “teman kecil” para burung dan seekor kadal kecil yang asyik menikmati matahari sore di batang pohon.
Masih ingin berlama-lama di kota ini, namun waktu seolah menarik kembali ke realita. Saatnya kemBALI. “Dilarang bersandar pada railing“, tulisan merah tertempel di railing kapal, yang entah sudah berapa kali kubaca.
Matahari mulai lelah, waktunya ia beristirahat. Rendah, semakin rendah matahari berbaring, kilau cahayanya terpantul pada permukaan laut. Semburat jingga kemerahan melukis langit dengan indah. Tak lama, bulan pun bangun dari tidurnya.
Salah satu senja yang akan tersimpan dengan baik di memoriku. Burung camar yang terbang di langit senja seakan mengucapkan salam perpisahan. Namun, euforia dalam diri tak kunjung surut. Walau begitu, aku tahu tubuhku butuh istirahat. Petualangan pada liburan kali ini selesai sampai di sana. Nantikan cerita petualanganku selanjutnya ya! []
*) Penulis adalah Siswi SMP Muhammadiyah 2 Singaraja

