Wisata Halal

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

MEMASUKI masa kampanye Pilkada Bali beberapa bulan yang lalu muncul isu wisata halal dalam narasi-narasi di medsos. Sementara Kabinet Merah Putih baru terbentuk. Siapa Menpar (Menteri Pariwisata) dan siapa wakilnya belum banyak yang tahu. Ini karena jumlah menteri dan wakilnya banyak sekali.

Sekarang jelas sudah, siapa yang jadi Menpar. Dia adalah Widiyanti Putri Wardhana. Putri salah satu konglomerat Indonesia. Sedang Wamenpar Ni Luh Puspa. Kelahiran Buleleng. Bali sempat kecewa karena orang Bali tidak ada yang jadi menteri, cukup diberi wamen.

Lantas apa maksud wisata halal. Apakah check in di hotel  musti menunjukkan surat nikah seperti beberapa hotel syariah yang ada di Jakarta atau tempat lain di Indonesia? Atau tidak ada alkohol ? 

Ternyata yang dimaksud wisata halal bukan wisata religi seperti mengunjungi masjid atau tempat yang disucikan. Namun lebih mengacu kepada pemenuhan fasilitas penunjang yang ramah terhadap wisatawan muslim. 

Memang sementara ini agak sulit menemukan tempat ibadah muslim di beberapa tempat wisata ternama di Bali. Juga harus hati-hati memilih menu jika kulineran di Bali. Itulah yang diimbau oleh Menpar dan Wamenpar agar kunjungan wisman ke Bali lebih merasa nyaman. Terlebih lagi bisa mengesankan kehidupan moderasi beragama. 

Yang saya tahu, ada dua tempat ibadah di wilayah Kabupaten Badung yang lokasinya di perumahan elit Jimbaran. Ada masjid, gereja dan pura dalam satu komplek. Tentu bagi yang berwisata ke arah Uluwatu, pantai Pandawa, GWK bisa sholat di sini. Tempatnya nyaman. Seperti di Masjid Istiqlal Jakarta, atau Masjid Agung Surabaya. Banyak orang jualan bakso, soto ayam, sate, rujak dan jajanan yang lain. Terlihat jelas para pembeli dari busana yang dikenakan dari kalangan Muslim, Hindu dan Nasrani berbaur menjadi satu. 

Satu lagi komplek ibadah yang dibangun pemerintah dengan bangunan mentereng 5 tempat ibadah sekaligus. Masjid, gereja Katolik dan Protestan, vihara dan pura. Kalau ke Nusa Dua cari Puja Mandala. Ada masjid 3 lantai. Yang bawah untuk wanita. Lantai 2 dan 3 untuk jemaah pria. Tempat parkir lumayan luas. Gereja juga megah. Vihara dengan patung Budha, patung naga dan gajah. Lebih lagi pura yang nampak estetik. 

Memang, di tempat-tempat wisata ada mushola ala kadarnya belum menciptakan kenyamanan bagi pengunjungnya. Sehingga nampak turis dari Malaysia harus bergantian karena tempatnya yang sempit. Kalau terbang lewat Bandara Ngurah Rai baru di samping boarding gate ada mushola yang cukup representatif. 

Kuliner tentu akan sangat aman jika kita memilih menu ayam atau seafood. Begitu juga kita kadang lebih tenang jika ada sticker halal di depot atau resto yang kita kunjungi. Jangan salah, ayam goreng Kentucky dan Mc Donald memasang sticker halal di gerainya. 

Bagus jika program pemerintah meningkatkan wisata halal di seluruh destinasi nusantara. 

Di Labuhan Bajo, orang sholat di bawah pohon dengan wudhu air laut. Karena kita berwisata di atas perahu 2 hari satu malam, atau 3 hari 2 malam, bergantung paketannya. 

Dengan koki yang memasak ikan hasil memancing. Ikan-ikan sengaja ditabur, nelayan tidak boleh memasuki zona wisata. Sebentar mancing, sudah dapat ikan dimasak ala resto. 

Pokoknya anda harus ke Labuhan Bajo. Tempat ajaib ada hewan purba komodo tersisa di sana. Banyak yang mencuri inti sel komodo dan diternakkan di Australia atau tempat lain di dunia. Namun tidak bisa mengembang-biakkan komodo.  

Sementara di pulau Komodo, begitu merapat, kita dapati cuma ada mushola semi permanen di sana. Saya berkunjung pada 2017. Bisa saja sekarang sudah lebih bagus. 

Paling enak ke kota Mataram. Kota dengan julukan seribu masjid situasinya mirip dengan Jawa, mudah menemukan tempat ibadah. Berderet masjid ketika melewati pantai Senggigi. Bangun pagi di hotel Senggigi sudah ada pedagang asongan yang menawarkan cincin, gelang, kalung mutiara putih dan hitam. Menawarkan dagangan sambil senyum berfilsafat : “jika ingin mendapat mutiara, menyelamlah lebih dalam ke laut”. 

Yah terpaksa beli. Nyeberang ke Gili Trawangan juga tersedia mushola yang bagus. Beribadah sangat diperlukan saat traveling. Berdoa mohon perlindungan. Terutama menjelang terbang dan menyeberang laut. Kita makhluk lemah tidak berdaya. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *