Resensi Buku “Perkembangan Muhammadiyah di Bali (1934-1968)” Karya Prof. Dr.Phil. I Ketut Ardhana, M.M.
- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.
MEMBACA buku “Perkembangan Muhammadiyah di Bali (1934 – 1968) karya Prof. Dr.Phil. I Ketut Ardhana, M.A sangatlah menarik.
Buku ini diangkat dari skripsi penulis yang notabene beragama Hindu saat menempuh kuliah Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana angkatan tahun 1980 yang kemudian mendapat kesempatan “program cangkokan” pindah melanjutkan kuliah di jurusan yang sama Universitas Gajah Mada Jogjakarta. Judul skripsi kemudian disetujui dosen pembimbing Prof. Dr. Ibrahim Alfian, M.A. yang menulis disertasi Perang di Jalan Allah, serta Prof. Dr. Kuntowijoyo, M.A., seorang ahli sejarah Islam, khususnya Muhammadiyah, lulusan Colombia University, USA.
I Ketut Ardhana sekarang guru besar sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Bali. Bahan skripsi ini diterbitkan menjadi buku oleh Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Bali dengan tim editor salah satu dari tiga adalah Drs. Amoeng A. Rachman, dengan cover digarap Yahya Umar yang tidak lain pengurus MPI PD Muhammadiyah Buleleng sekarang.
Apresiasi tinggi buat keduanya. Sebab, penulisan buku ini membuka wawasan pembaca tentang kiprah Muhammadiyah di era Penjajahan Belanda, jaman Jepang, perjuangan Revolusi Kemerdekaan sampai terjadinya gerakan G.30.S/PKI yang di Bali disebut gerakan G.30.N/PKI karena PKI bermaksud merebut kota Negara pada 30 November 1965 agar PKI kelihatan eksis setelah gagal di Jakarta.
Muhammadiyah terlibat dalam setiap dinamika bangsa. Namun demikian organisasi Muhammadiyah tetap organisasi massa bukan organisasi politik yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan dan sosial ekonomi.
Karena buku ini diangkat dari bahan skripsi, maka banyak sekali catatan kaki yang diambil dari manuskrip, 62 dokumen, 71 judul buku, dan 33 dari majalah dan koran. Saking detailnya, tidak cukup hanya dengan satu tulisan di buletin ini untuk menyajikan semuanya. Insya Allah akan dibuat bersambung.
Lagi pula meresensi buku yang dibuat oleh orang yang belum 3 tahun tinggal di Singaraja sangatlah awam dibandingkan pembaca yang sudah menetap lama, bahkan lahir dari generasi yang berasal dari generasi sebelumnya. Untuk itu mohon koreksi jika ada yang salah.
Warga Muhammadiyah Buleleng wajib membaca buku ini. Sebab, tidak banyak Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah provinsi lain berhasil mendokumentasikan kegiatan perguruan Muhammadiyah menjadi sebuah buku.
Jika ada buku Perkembangan Muhammadiyah Bali (1934-1968) sangat menarik jika ada buku berikutnya yang membahas perkembangan Muhammadiyah antara tahun 1968 sampai sekarang. Ada pergolakan penolakan judi Porkas yang dikelola pemerintah. Juga ada dinamika pembentukan partai politik setelah era reformasi. Yang mengalami pasang surut menghadapi dinamika bangsa.
Apapun yang terjadi, Muhammadiyah tetap organisasi massa yang memperjuangkan amar makruf nahi mungkar sebagai landasan perjuangan. Muhammadiyah akan terus berkontribusi terhadap pembaharuan Islam lewat Majelis Tarjih dan Tajdid dengan atau tanpa tambang nikel pemberian pemerintah.
Muhammadiyah ormas kaya dengan asst 400 trilyun rupiah, berupa tanah, masjid, sekolah, kampus, rumah sakit dan klinik, dan amal usaha yang lain. Bahkan Muhammadiyah memiliki bank sendiri. Muhammadiyah memang oye. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

