- Oleh dr. Rizani, M.Ked.
DALAM fikih atau hukum Islam, berpuasa selama bulan Ramadhan adalah kewajiban bagi umat Islam. Dasar perintah ini tertera dalam Surat Al-Baqarah ayat 183, yang diturunkan sekitar 1.400 tahun yang lalu, pada tahun kedua hijriyah. Demikianlah selama 14 abad, umat Muslim menjalankan kewajiban berpuasa Ramadhan dalam rangka fikih.
Dengan menjalankan puasa Ramadhan dan berbagai ibadah sunahnya, umat Muslim sudah memenuhi kewajiban beragamanya. Apalagi ternyata mendapat manfaat kesehatan, maka hal ini harus disyukuri sebagai barokah di bulan suci Ramadhan.
Dalam kacamata medis, puasa (fasting) memberhentikan asupan makanan tubuh dalam periode tertentu hingga terjadi beberapa proses katabolisme. Beberapa penelitian pada hewan dan manusia menunjukkan, bahwa puasa merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi berat badan, menunda penuaan, dan mengoptimalkan kesehatan.
Secara biologis manusia memerlukan asupan nutrisi untuk mempertahankan tubuh, agar berlangsung normal dan terhindar dari penyakit, sehingga pola perilaku makan berjeda 8 sampai 14 jam. Dalam 24 jam pertama puasa, glukosa-asam lemak dan glikogen (hormon pada hati dan otot) akan dipakai sebagai sumber bahan bakar. Namun jumlahnya kurang, jika dibandingkan dengan kebutuhan untuk metabolisme sehari-hari.
Selain itu, trigliserida (dari jaringan lemak) akan dipecah menjadi asam lemak dan keton, yang dipakai oleh jaringan selain otak sebagai bahan bakar. Otak hanya memperoleh energi melalui metabolisme glukosa.
Manfaat Puasa
Menghemat Energi dari Protein Tubuh
Karena aktivitas yang dilakukan selama puasa berkurang, tubuh akan otomatis menghemat energi dari protein. Jika puasa diperpanjang, akan muncul gejala seperti penurunan aktivitas fisik, sehingga meminimalkan konsumsi energi dan penurunan kecepatan metabolisme saat beristirahat.
Menurunkan Berat Badan
Puasa yang sudah dibiasakan, akan dapat menurunkan berat badan tubuh. Masalah utama pengelolaan obesitas (kegemukan) adalah mempertahankan penurunan berat badan. Kegemukan tidak dapat diatasi hanya dengan membatasi asupan makanan saja, namun memerlukan respon hormon endogen yang mengatur tingkah-laku makan.
Mengendalikan Penyakit Akibat Pola Makan
Puasa berguna mengendalikan penyakit yang disebabkan makan dan pola makan. Penyakit yang sering ditimbulkan adalah diabetes, peradangan, dan jantung. Dengan berpuasa sesekali, bisa menurunkan level beberapa faktor risiko berbeda, termasuk tekanan darah, kolesterol, trigliserida dan gula darah.
Otak Memakai Asam Keton untuk Bahan Bakar
Otak hanya mendapat energi dari glukosa, jika puasa berlangsung terus tubuh akan kehilangan nitrogen protein > 65 % sehingga bisa mengakibatkan sakit. Inilah mungkin rahasia sunah: mengakhiri sahur, dan mengawalkan berbuka.
Riset Puasa
Mark P Mattson dari Universitas Johns Hopkins menjelaskan, bahwa hati menyimpan glukosa, digunakan tubuh utamanya otak untuk energi, sebelum berubah menjadi pembakaran lemak. Dibutuhkan 10-12 jam untuk menghabiskan kalori di hati sebelum terjadi pergeseran metabolisme untuk memakai lemak yang tersimpan sebagai energi.
Orang yang berupaya menurunkan berat badan harus berjuang selama 16 jam bebas kalori, tetapi Prof. Mattson yang telah mempelajari dampak kesehatan dari puasa intermitten selama 25 tahun menyarankan cara yang lebih mudah, yaitu metode diet 7:11 dengan berhenti makan pada pukul 19.00 malam, esoknya tidak sarapan, dan baru makan pada pukul 11.00 menjelang siang.
Dampak Positif Puasa
Terhadap Imunitas
Pada studi terhadap kelinci ditemukan, bahwa puasa dapat menurunkan stres oksidatif pada organ vital seperti otak dan jantung. Selain itu, puasa dapat meningkatkan kapasitas tubuh memproduksi zat-zat antioksidan untuk melawan radikal bebas.
Terhadap Hormon Kenyang (Leptin)
Selama bulan Ramadhan, pola makan harian mengalami perubahan, dan ada beberapa perubahan pada hormon seperti leptin, ghrelin, melatonin, dan kortisol.
Hormon leptin dan ghrelin berperan penting dalam mengatur nafsu makan dan berat badan. Konsentrasi leptin dalam tubuh bervariasi sebagai respon perubahan asupan kalori makanan, dimana terjadi penurunan yang luar biasa selama puasa.
Normalnya, puncak pelepasan leptin pada pukul 22.00 hingga sekitar pukul 03.00 pagi dan menurun setelah breakfast, dengan level terendah berkisar antara pukul 08.00⁰ hingga pukul 17.00 sore. Saat berpuasa, peningkatan leptin diurnal pada pukul 22.00 hingga 06.00 pagi.
Penelitian pada beberapa pria puasa, menunjukkan perubahan tidak signifikan kadar leptin pada hari ke-23. Sebaliknya penelitian lain menunjukkan bahwa puasa jangka pendek menghasilkan penurunan kadar leptin sebesar 30 – 66 %.
Terhadap Hormon Lapar (ghrelin)
Ghrelin yang diproduksi oleh lambung, akan meningkat saat sebelum makan atau saat kekurangan makanan, dan saat terjadi penurunan berat badan tertentu. Kenaikan hormon ini akan merangsang keinginan untuk makan.
Pada kondisi awal puasa dapat terjadi peningkatan kadar ghrelin. Namun pada pemeriksaan yang dilakukan paska diet puasa Ramadhan selama sebulan, sirkulasi ghrelin berkurang drastis. Penurunan hormon ini mungkin akibat perubahan kebiasaan makan selama diet yang lebih kaya lemak dan karbohidrat.
Walau pun belum ada korelasi yang jelas antara peran hormon ini terhadap kesehatan mental selama puasa intermitten, peningkatan ghrelin berkaitan dengan kondisi stres kronis. Dijelaskan saat stres, beberapa orang cenderung nafsu makannya meningkat mau makan atau ngemil terus. Rerata ghrelin akan mengalami penurunan, akibat puasa intermitten selama 2 bulan. []
*) Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Buleleng
————————
Sumber Bacaan :
Hardiany NS, Kasman AP, Calista ASP, Anindyanari BG, Rahardjo DE, NoviraPR, Taufiq RR, Imtiyaz S, Antarianto RD.
“The effect of fasting on oxidative stress in the vitak organd of New Zealand white rabbit.” (Reports of Biochem&Mol Biol 2022 Jul.11(2): 190-199.
Nieminen P, et al (2002): “Seasonal weight regulation of the Raccoon dog (Nyctereutes Procyonoides): Interactions between melatonin, leptin, ghrelin, and growth hormon, Journal of Biological Rhythms, 17(2), pp.155-163.

