Resesi Dunia

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd

AKHIR pekan kemaren terjadi gejala perbankan yang mengejutkan di pelbagai pusat bisnis terkemuka dunia. Seperti Amerika, Inggris, Jepang dan beberapa negara lainnya. Harga saham anjlok sangat signifikan. Crypto dan yang lainnya juga. Resesi dunia kembali terjadi setelah tahun 1975, 1982, 1991, 2009, dan 2020 akibat pandemi. 

Secara umum resesi adalah kondisi ekonomi suatu negara mengalami penurunan dalam waktu yang lama. Minimal dua kuartal. Ditandai dengan pengangguran meningkat, pendapatan rumahtangga menurun. Nilai aset menurun. Kurs mata uang melemah terhadap dolar. 

Tanda-tanda itu sudah sejak tahun lalu kita rasakan. Ditambah pengelolaan pembangunan infrastruktur yang dibiayai dengan hutang. Menambah beban pembayaran cicilan yang sangat membebani. 

Ekonomi lesu, bank meningkatkan suku bunga. Akibatnya berlaku take money policy. Jumlah uang yang beredar dikurangi. Roda perekonomian berjalan lambat. 

Akibat resesi yang paling terasa adalah kehidupan semakin sulit. Akibat pengangguran meningkat, jumlah kelas menengah Indonesia turun drastis sampai mendekati 10 juta. Kemajuan teknologi berupa penjualan online dari pabrik langsung ke pembeli mengakibatkan banyak toko tutup karena bangkrut. Harga-harga semakin mahal. Kesenjangan semakin meningkat. 

Banyak ahli ekonomi berpendapat, keadaan ini berlangsung sampai tahun 2026. Ekonomi mulai bangkit 2027 melalui proses alami. Yang kuat bertahan, yang lemah tergerus. 

Kita sampai bosan mendengar istilah ketatkan ikat pinggang. Karena “ikat pinggang kita” hampir putus saking ketatnya. Properti anjlok, retail menjerit. Bursa saham terhuyung-huyung. Kejahatan dan penipuan meningkat. 

Lupakan gaya-gayaan dengan mobil dan rumah mewah. Banyak rakyat semakin susah. Kurangi makan makan di restoran, hemat dengan masak sendiri. Jalan-jalan sambil bergaya di FB dan IG sementara stop. Ganti dengan kegiatan religi yang menenangkan hati. Meski keadaan sulit, jangan menjual diri di hingar bingarnya Pilkada. Kuatkan iman.  

Ini yang penting. Jangan berhutang, apalagi dengan resiko tinggi,  Bunga tinggi. Seperti pinjol,  Hidup sengsara menanti. 

Koran hari ini memberitakan Menteri ESDM yang baru, Bahlil Lahadalia berencana menjalankan kebijakan yang tertunda : membatasi penjualan pertalite mulai 1 Oktober bulan depan. Kebijakan ini mustinya mulai diberlakukan 17 Agustus lalu. Tapi masak iya sih, perayaan HUT RI mewah di IKN dibarengi kebijakan ekonomi tidak populer. Gengsi donk. Apalagi kalau diingat 5 hari kemudian tanggal 22 Agustus terjadi demo besar-besaran menentang Baleg DPR dan pemerintah yang menentang keputusan MK. 

Keadaan bisa tambah runyam. Demo bisa semakin meruyak ke mana-mana. Emak-emak bisa ikut turun ke jalan. 

Begitulah keadaan kita. “Demokian” adanya. Ingat : “uang tunai adalah raja”. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *