- Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd
TIGA kali saya ikut pembekalan, sewaktu mengikuti diklat untuk meraih kompetensi tertentu. Di Bandung, tepatnya di Cimindi Cimahi. Lembaganya bernama TTUC (Technical Training Upgrading Center).
Tapi sering diplesetkan tukang tipu urusan cinta. Karena rentang waktu diklat yang lama, 3 semester dengan skema in, on, in. Dua semester di kampus, satu semester studi lapangan.
Lantas di Malang, tepatnya di belakang terminal Arjosari. Nama lembaganya VEDC (Vocational Education Development Center). Tiga bulan diklat masih ketemu pecel, rawon, bakso. Mau pulang juga masih bisa.
Di Cianjur, tepatnya di Karangtengah, jalan dari Cianjur menuju Ciranjang. Nama lembaganya VEDCA, sama dengan VEDC di Malang. Huruf A terakhir adalah agricultural. Lingkup pertanian.
Dari ketiga lembaga ini ada kesamaan konsep kepelatihan. Sebelum dilatih ilmu manajemen, komunikasi, pengembangan kepribadian dan lain lain.
Minggu pertama masuk diklat pastilah menjalani dulu apa yang disebut bintal : pembinaan mental. Setiap hari bangun pagi. Baris berbaris, kerjasama tim. Latihan fisik dan penanaman disiplin. Datang dan pergi tempat tidur harus rapi. Lemari pakaian juga begitu.
Hari pertama usai diklat jam 4 sore langsung menuju toko yang ada di kampus beli sapu, tempat sampah, hanger, alat alat mandi dan pengharum ruangan.
Lantas dijelaskan bahwa datang ke kelas tidak boleh terlambat. Tidak boleh merokok. Di tempat makan harus tunggu komando, berdoa dan makan.
Bagi peserta yang biasa hidup enak di rumah. Apa-apa tinggal perintah. Tentu siksaan ketika harus disuruh-suruh untuk mematuhi semua peraturan. Terutama yang sering kena hukum push up karena duduk langsung comot tempe kebul-kebul tanpa berdoa dulu.
Belum lagi sewaktu enak-enak istirahat, disemprit untuk segera baris. Yang terasa tentu konsentrasi meningkat. Semakin fokus dan siap mengikuti diklat.
Hari keenam atau terakhir biasanya lintas alam di lingkungan kampus. Kita diwajibkan melewati rute tertentu. Di Malang dan Bandung harus menyeberangi sungai. Di Cianjur naik turun bukit. Untuk minta tanda tangan di masing-masing posko.
Al hasil setelah semua berkumpul di tanah lapang. Istirahat di tenda. Persiapan untuk menyalakan api unggun nanti malam. Masing-masing peserta memperkenalkan diri. Boleh menyanyi diiringi gitar. Boleh juga deklamasi. Paling lucu membaca pantun yang dibuat dadakan.
Rasa kebersamaan, keakraban dan senasib sepenanggungan tercipta diantara peserta. 11 minggu kedepan akan bersama terus.
Saat diklat dimulai, ketika sesi pertama sampai tiga selesai, saatnya ishoma, langsung bergegas ke tempat makan, langsung tuangkan minuman dan seruput. Prittt …, kena push up lagi. Karena harus duduk dulu, menunggu 8 kursi satu meja makan terisi semuanya. Duduk sambil sikap sempurna, berdoa menurut agama masing-masing. Dan hentakan kaki. Bruak….. lalu makan. Susah jika salah satu teman tidak segera ke meja makan, kita mesti menunggu sambil melihat iga bakar di depan kita.
Cara makan tidak luput dari pantauan instruktur. Jangan ada nasi tersisa. Telungkupkan sendok dan garpu sehabis makan. Dorong kursi, berdiri, dorong kembali kursi merapat ke meja.
Jika sudah hari Jumat. Bagi yang rumahnya dekat. Seputaran tempat diklat. Semisal Bogor, Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Saatnya PJKA, pulang Jumat kembali Ahad. Bahkan mungkin Senin dini hari.
Bagi peserta yang jauh bahkan antar pulau. Rekreasi bareng-bareng. Kalau dekat sewa angkot. Kalau jauh sewa mobil jalan-jalan. Saya yang sudah sering berkunjung kadang tidak ikut rekreasi tapi mencari lokasi orang main catur.
Di Malang turun dari fly over belok kiri. Di Cianjur di dekat pasar. Disamping abang tukang bubur. Setelah makan bubur Cianjur yang terkenal itu. Main catur dengan Mang Jajang, Kang Usman. “Kumaha eta, lieur eui“. Begitu kalau terdesak.
Di Singaraja kalau sudah kepepet, sering dengar kata : keweh, peleh, sing ngidang kije, sing tawang kedek. Makejang daldal, Naskleng. Pulang catur, pikiran fresh kembali.
Rasa rindu keluarga dilawan dengan menelpon. Tugas-tugas seperti tidak ada habis-habisnya.
Tanpa terasa, masa diklat berakhir, kita pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa tukar menukar alamat di buku kenangan.
Kemarn bulan Mei 2024. Teman diklat dari Timika. Rekreasi ke Bedugul. Kemajuan teknologi mempertemukan kita kembali. Setelah 30 tahun berlalu.
Diklat, tambah pengalaman, tambah ilmu pengetahuan, tambah wawasan, tambah teman dan kenalan, sangat boleh jadi tambah jabatan.
Kenangan diklat bersama teman dari seluruh pelosok tanah air tidak terlupakan. Kita lantas berkomitmen : Guru pemersatu bangsa. Guru perekat bangsa. Majulah pendidikan Indonesia. []
*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

