G30S/PKI

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

LEBIH mudah diterima akal sehat jika memandang peristiwa G.30.S/PKI dari sudut pandang perseteruan global yang disebut perang dingin. 

Setelah Jepang, Italia dan Jerman menyerah kalah dalam Perang Dunia Kedua. Jerman, Korea lantas menyusul Vietnam dibagi dua. Jerman Barat dan Timur, Korea Selatan dan Utara, Vietnam Selatan dan Utara. 

Uni Soviet, Amerika, China, Inggris dan Perancis punya hak veto di PBB. Perang dingin dimulai. Benturan komunis dan kapitalis menjadi perang terbuka dengan mencari pengaruh di setiap negara, di 3 benua: Eropa, Asia dan Afrika. 

Menteri Luar Negeri Amerika menjadi sangat populer di dunia karena selalu melakukan politik merangkul dan memukul. Teori domino Menlu AS Henry Kissinger dibuat pedoman untuk membuat pakta pertahanan di setiap sudut dunia. Teori yang menyatakan jika satu negara jatuh ke tangan komunis, maka negara tetangganya menjadi giliran berikutnya. 

Ketika perebutan pengaruh semakin meruncing. Perang tidak bisa dihindari. Vietnam Selatan perang melawan Vietnam Utara yang dibantu Amerika. Amerika menang hanya di film Rambo. Dalam dunia nyata, pasukan Amerika kalah menghadapi keberanian Vietkong yang bertempur memanfaatkan penguasan medan alam Vietnam yang masih berupa hutan belukar. 

Kapal induk AS Mayaguez disandera Vietkong. Di sungai Mekong. Pada akhirnya Amerika harus keluar Vietnam agar tidak mengalami kerugian lebih besar. 

Jerman bersatu setelah Uni Soviet runtuh. Karena politik Glasnost dan Perestroika yang dijalankan Mikhail Gorbachev yang mengendorkan ikatan antar negara (Soviet) agar lebih fokus mengurus soviet masing-masing. Uni Soviet bubar, menjadi 21 negara. Jerman dengan membayar konsesi tertentu. Membongkar tembok yang memisahkan Berlin menjadi barat dan timur. 

Perang Dingin antara Blok Barat dan Timur terus berlanjut. NATO dilawan dengan pakta Warsawa. Propaganda tidak pernah berhenti untuk saling menguasai. Amerika berkali-kali menyebut komunis bangkrut. Padahal China dan Rusia semakin kuat. Hampir seluruh Eropa anggota NATO. Kecuali negara bekas Uni Soviet. 

NATO mempengaruhi Ukraina untuk bergabung. Rusia marah dan Ukraina diserbu. Namun perang tidak mudah diselesaikan karena NATO membantu Ukraina, kalau bisa malah dengan berbalik menyerang Rusia. Potensi perang dunia ketiga membayang-bayangi.

Untuk wilayah Asia Tenggara, Amerika, Inggris, Perancis, Selandia Baru, Filipina, Thailand, Pakistan dan Australia mendirikan Seato di Manila tahun 1954. Bung Karno kemudian menggagas Gerakan Non Blok yang pelaksanaan pertemuannya dilaksanakan di Bandung. Gagasan Bung Karno memang diterima luas di dunia sebagai gagasan yang masuk akal. Tapi minim dukungan dana. 

Sementara Seato menggelontor dana bantuan untuk Filipina, Thailand dan Pakistan sangat banyak. Bung Karno lantas lebih cenderung ke kiri dengan membentuk Poros Jakarta-Peking (Beijing) dn Pyongyang (Korut). Langkah Bung Karno ini membuat barat bermaksud menyingkirkan Bung Karno dan PKI dari Indonesia sesuai semangat Seato. 

Ketika PKI gagal melakukan kudeta. ABRI dan rakyat mendukung Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan.

Setelah itu Indonesia walau melaksanakan politik bebas aktif, faktanya lebih cenderung berpihak ke Barat dengan memutus hubungan diplomatik dengan RRC 1 Oktober 1967. Karena menganggap RRC ikut terlibat dalam peristiwa G30S/PKI. Hubungan diplomatik dibuka kembali tahun 1990. 

Situasi mirip kembali terjadi di era pemerintahan Jokowi. Ketika Freeport menjadi isu nasional, ketika Indonesia dilarang mengolah hasil tambangnya menjadi nilai tambah, Jokowi berpaling ke China. Kerja sama RI-RRC meningkat tajam. Namun sebatas kerjasama ekonomi. Tidak sampai membentuk poros. 

Isu China akan mendirikan pangkalan militer di Indonesia juga belum terbukti. Sementara pangkalan Amerika sudah lama bercokol di Quebec, Filipina. 

Sementara Inggris mengepung Indonesia lewat negara persemakmuran Malaysia, Singapore, Brunei, Papua Nugini, Australia dan New Zealand. Lebih mudah memahami peristiwa G30S/ PKI dari perspektif politik global. 

Prabowo didikan akademi militer Westpoin Amerika paham tentang hal itu. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *