Gus Dur

  • Oleh Drs. Yuskardiman, M.Pd.

GUS Dur fenomena unik sejarah indonesia. Berangkat dari lingkungan pesantren, namun Gus Dur lebih berpenampilan sebagai budayawan, jurnalis dan aktivis. Tindak tanduknya nyeleneh. Konon kabarnya dilakukan agar tidak dikultuskan, dikeramatkan.

Tradisi itu ada pada Gus Dur. Cucu pendiri NU. Ayahnya Menteri Agama, sehingga Gus Dur dianggap berdarah biru. 

Namun, itu tidak membuat Gus Dur jadi seperti ndoro kanjeng. Justru sering dalam setiap langkah Gus Dur melakukan apa yang oleh orang kemudian disebut desakralisasi. 

“Jangan menuhankan agama, Tuhankanlah Tuhan”. Tulis Gus Dur. 

Di kantor majalah Tempo. Ada kursi meja dan mesin ketik khusus untuk Gus Dur. Tiap ada kertas terjepit di mesin ketik. Redaksi mengambilnya. Besoknya tulisan Gus Dur muncul. Pernah bikin heboh karena assalamu’alaikum boleh diganti selamat pagi. Terasa aneh ulama besar mengusulkan seperti itu. 

Sekarang terbukti pemikiran Gus Dur lebih bisa diterima daripada harus mengucap salam 6 agama. Toh maksudnya sama saja. Mendoakan selamat. 

Kali lain, ulama besar ini didapuk menjadi ketua Badan Sensor Film Indonesia. Koq bisa? “Kalau kiai nonton film porno tidak boleh. Kalau ketua lembaga sensor film ya boleh”. 

Yang dengar ngakak. Dalam sebuah diskusi lintas agama, Gus Dur bilang: yang akrab dengan Tuhan itu Hindu. Panggil Tuhan ‘om’. Nasrani bapak. Islam panggilnya jauh pake toa. Nurcholis Madjid menulis, “jika bukan Gus Dur yang bilang, akan menjadi masalah besar”. 

Sikap nyeleneh Gus Dur juga terlihat saat hari ini berjalan dengan putri Bung Karno, besok bersama putri Pak Harto. Gus Dur nampak seperti playboy cap duren tiga – pinjam istilah Lupus.

Emha Ainun Nadjib, kader Gus Dur sama nyeleneh-nya dengan Gus Dur : “Sampeyan laki-laki, tidak merokok, tidak minum, tidak tambeng, terus gunanya apa sampeyan jadi laki laki”.  Beragama tidak harus mengekang bakat girang. Boleh sedikit ugal-ugalan. 

Pemilu 1999 menjadikan PDIP sebagai pemenang. PKB nomor 4. Harusnya Megawati presiden. Tapi ada Poros Tengah. Kalau sekarang mungkin bernama koalisi Poros Tengah. Rundingan sehingga Gus Dur presiden, Mega wakilnya. 

Sikap nyeleneh Gus Dur tidak bisa diterima koalisinya. Bubarkan DPR, bubarkan Golkar, keluarkan dekrit mempercepat proses impeachment. Ditambah lagi sikap Gus Dur yang berani melanggar embargo Amerika atas Irak. 

Gus Dur tetap mengunjungi Irak meski dilarang Menlu AS Medelin Albraigh. Kenekatan Gus Dur ini menjadi pemicu impeachment

Kejatuhan Gus Dur berakibat juga terhadap partai yang dibentuknya, PKB. Pada Pemilu 1999 dan 2004 PKB mendulang 9 – 10 % suara. Anjlok tinggal 4,9% pada Pemilu 2009. Kembali survive pada Pemilu 2014 dan 2019. Yang lebih lagi pada Pemilu 2024 PKB menembus angka 10,62%. Pemenang di Jatim. 

Itu semua karena efek ekor jas Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang populer nyalon wapres mendampingi Anies Baswedan. Dalam seleksi alam nampak kader Gus Dur yang nampak moncer adalah Cak Imin. 

Sementara kader Gus Dur yang lain, Yahya Cholil Staquf dan Saifullah Yusuf kalah pamor. Apalagi keduanya lantas berusaha merebut PKB dengan bantuan istana. Makin lama makin meredup setelah adanya pemberian tambang dan jabatan Mensos cuma 5 minggu bagi Saifullah Yusuf. 

Cara berpolitik Gus Dur ditiru Cak Imin tanpa nyeleneh. Kesan Cak Imin yang nakal kepada guru lambat laun berubah menjadi murid cerdas yang diabaikan guru. Keduanya sama berdarah biru NU. Sama-sama dari Jombang. Gus Dur baru ada pada Cak Imin: lincah, lihai, tapi tidak nyeleneh. []

*) Penulis adalah Ketua LSBO PD Muhammadiyah Buleleng

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *