SuaraMu Buleleng – Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Bali melaksanakan sharing program kerja sekaligus buka puasa bersama dengan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Buleleng dan Pimpinan Daerah Nasyiyatul ‘Aisyiyah (PDNA) Buleleng. Acara dilaksanakan di Masjid Al Manar Kompleks Perguruan Muhammadiyah Singaraja, Ahad (17/3/2024).
Sudah menjadi bagian dari bulan suci Ramadan di negeri ini. Bukber merupakan agenda rutin yang diadakan oleh ragam kelompok, keluarga besar, atas nama alumni, kawanan yang lama tak bertemu, bahkan civitas akademika perguruan tinggi. Bukber tidak sekadar makan bersama, namun juga dijadikan sebagai momen silaturahmi dan lainnya.
Buka puasa bersama tersebut sekaligus merupakan program turun ke daerah (Turda) yang bertujuan untuk membangun komunikasi dan relasi di setiap pimpinan daerah di Bali khususnya, supaya tetap solid dalam memajukan Muhammadiyah di Bali.
“Di bulan yang penuh berkah ini, momen buka puasa bersama adalah momen yang harus kita manfaatkan, selain silaturahmi dan makan-makan, ada yang lebih penting dari itu, yaitu kita bisa saling sharing program kerja di masing-masing pimpinan daerah dan wilayah,” kata Ketua PWPM Bali, Abdillah Nur Ichsan.
“Insya Allah bukber ini akan terus menjadi tradisi yang harus kita rawat bersama tiap tahunnya, karena sebagaimana Sahabat Nabi Muhammad SAW pernah menyebut kalau Rasululllah SAW tidak pernah makan sendirian. Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahwa sebaik-baiknya makanan adalah yang dimakan dengan banyak tangan. Anjuran Nabi Muhammad SAW bahwa makan bersama-sama itu banyak berkahnya yang meliputi rasa kebersamaan dan menjadi silaturahmi,” jelasnya.
Dikatakan, dalam buka puasa bersama ada kebersamaan, rasa syukur, silaturahmi, dan interaksi atau komunikasi langsung antar-manusia. Meski dianjurkan Nabi Muhammad SAW, acara bukber bukan berarti diwajibkan dan bukan merupakan ibadah dan tidak boleh diyakini sebagai ibadah. Hal tersebut tertuang firman Allah SWT, “… Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian.” (QS. An Nur: 61).
Dalam sambutannya, Ketua PDPM Buleleng, Muhammad Fardiansyah dan Ketua PDNA Buleleng, dr. Nuril Hidayat, dengan nada yang sama dan tujuan yang sama kolaborasi menjadi kunci utama dalam memajukan dan mewujudkan kader yang berkemajuan.
Sementara dalam kultum singkatnya, Ketua PWPM Bali, Abdillah Nur Ichsan, menjelasakan tentang pentingnya memahami tiga macam bentuk sabar. Yang pertama, sabar dalam ketaatan. Menurutnya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, yaitu seseorang bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah.
“Dan perlu diketahui bahwa ketaatan itu adalah berat dan menyulitkan bagi jiwa seseorang. Terkadang pula melakukan ketaatan itu berat bagi badan, merasa malas dan lelah (capek). Juga dalam melakukan ketaatan akan terasa berat bagi harta seperti dalam masalah zakat dan haji,” kata Abdillah.
Intinya, yang namanya ketaatan itu terdapat rasa berat dalam jiwa dan badan sehingga butuh adanya kesabaran dan dipaksakan. Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron [3] : 200).
Kedua, sabar dalam menjauhi maksiat. Menurut Abdillah, bentuk sabar kedua adalah sabar dalam menghadapi maksiat. Sabar dalam menjauhi maksiat adalah kemampuan untuk bersabar dan mempertahankan diri dari tindakan yang merugikan atau terlarang dalam agama.
“Ini memerlukan kesadaran dan kesabaran yang tinggi untuk menjauhi godaan dan tetap mempertahankan komitmen moral dan religius. Hal ini penting untuk membangun kebiasaan hidup yang baik dan memelihara kesucian jiwa serta keutuhan agama,” jelasnya.
Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir yang pahit. Dikatakan, sabar menghadapi takdir pahit merupakan hal yang sulit untuk menerima dan menghadapi takdir yang pahit dalam hidup. Namun, ada beberapa cara yang dapat membantu kita untuk mengatasi hal ini dan tetap bersabar:
• Berdoa – berdoalah kepada Tuhan untuk meminta ketabahan dan kekuatan untuk menghadapi masalah yang sedang dialami.
• Fokus pada hal positif – fokuslah pada hal-hal positif yang ada dalam hidup, seperti kebahagiaan dan kesuksesan dalam pekerjaan, hubungan dengan keluarga dan teman, dan lain-lain.
• Terapkan teknik relaksasi – teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, atau berolahraga dapat membantu meredakan stres dan memperbaiki kondisi mental.
• Bicara dengan orang yang dapat dipercayai – berbicaralah dengan orang yang dapat dipercayai, seperti keluarga, teman, atau profesional untuk memperoleh dukungan dan masukan.
• Terima dan hadapi masalah – jangan mencoba untuk melarikan diri dari masalah, tetapi terimalah dan hadapilah dengan lapang dada dan semangat yang kuat.
“Sabar dalam menghadapi takdir yang pahit memang tidak mudah, namun dengan mempraktikkan cara-cara di atas, kita dapat memperkuat mental dan spiritual untuk menghadapinya,” pungkas Abdillah. (smb)

