NAMANYA Analis. Ayahnya Daeng AM Amin, warga Singaraja keturunan Makassar. Analis dikenal sebagai aktivis Nasyiyatul ‘Aisyiyah Buleleng yang sangat militan di zamannya. Ia ikut mendirikan organisasi pemudi pejuang, yakni Persatuan Pemoedi Republik Indonesia (PPRI) Buleleng di era Perjuangan Kemerdekaan. Dan Analis dipilih sebagai ketuanya.
Karena aktivitasnya ikut berjuang, Analis selalu dikejar-kejar penjajah. Baik di zaman Jepang maupun NICA (Belanda). Analis bahkan sempat bergerilya bersama pejuang-pejuang di Buleleng. Disembunyikan teman-teman seperjuangannya di Desa Pegayaman, menghindari kejaran penjajah.
Dalam bukunya, “Jejak Islam di Bali”, dr. Soegianto Sastrodiwiryo (alm.), menceritakan, sebelum aktif sebagai pejuang, Analis bekerja sebagai pegawai Kantor Pos di Singaraja. Namun, pekerjaan sebagai pegawai Kantor Pos, ia tinggalkan karena sadar akan perjuangan bangsanya untuk mempertahankan kemerdekaan. Analis memilih ikut terjun untuk berjuang.
Selain posisinya sebagai Ketua PPRI Buleleng, Analis juga sebagai koordinator persatuan wanita lain, seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan dapur umum sebagai persiapan untuk membantu pemuda pejuang bergerilya.
Sebagai kader muda ‘Aisyiyah Buleleng, Analis juga sangat militan. Ia memang lulusan Muallimat Yogyakarta, sekolah kader bagi anak-anak ‘Aisyiyah. Analis aktif sebagai penggerak Nasyiyatul ‘Aisyiyah di Buleleng.
Saat itulah, Analis memimpin berdirinya Taman Kanak-kanak (TK) ‘Aisyiyah Singaraja, bersama aktivis Nasyiyatul ‘Aisyiyah Singaraja lainnya.
Dalam tulisannya berjudul “Sejarah TK ‘Aisyiyah Singaraja Bali”, Sriyani Sadikin mengambarkan, “berdirinya Taman Kanak-kanak ‘Aisyiyah Singaraja dipimpin oleh seorang kepala sekolah bernama Analis AM Amin, merupakan kader muda ‘Aisyiyah lulusan Muallimat Jogyakarta, dan ia juga dikenal sebagai aktivis Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) yang sangat militan.”
“Ketika pecah Revolusi Fisik menjelang Indonesia merdeka, ia (Analis-red) terlibat dalam dunia pergerakan sebagai srikandi bersama para pejuang lainnya di kota Singaraja. Karena menginginkan begitu penting dalam menggelorakan semangat pejuang sehingga ia menjadi sasaran operasi dan buronan oleh pasukan pendudukan Jepang,” tulis Sriyani Sadikin, mantan Ketua ‘Aisyiyah Buleleng ini, dalam “Sejarah TK ‘Aisyiyah Singaraja Bali”.
Kisah perjuangan Analis untuk memerdekakan bangsanya dan mempertahankan kemerdekaan itu sungguh dramatis. Sejarawan dr. Soegianto Sastrodiwiryo (alm.) dalam bukunya “Jejak Islam di Bali” melukiskan, saat ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan pada 1946, usia Analis masih 23 tahun.
Di usia yang masih muda itu, gadis Analis ikut bahu membahu berjuang bersama para pemuda dan pemudi lainnya. Mantan Ketua Nasyiyatul ‘Aisyiyah Bulelng dan perempuan pertama penggerak ‘Aisyiyah di Buleleng ini bergabung dan menjadi Ketua Persatuan Pemoedi Republik Indonesia (PPRI) Buleleng.
Karena aktivitasnya dalam perjuangan, Analis dikejar-kejar NICA (Belanda). Ia kemudian disembunyikan kawan-kawan seperjuangannya di pemusatan gerilyawan di Desa Pegayaman. Atas laporan mata-mata NICA, NICA mengejar Analis ke Desa Pegayaman. Namun, NICA tidak berhasil menemukan Analis.
Saat itu, Analis dibantu Kepala Desa atau Perbekel Pegayaman, Adjhari. Sosok inilah yang meminta Analis sembunyi di sebuah lumbung padi di rumahnya di Desa Pegayaman. Perbekel Adjhari menyembunyikan Analis di tumpukan padi kering di lumbung yang besar di belakang rumahnya.
“Sehingga tatkala terjadi penyergapan NICA atas laporan mata-mata HAH dan BCK atas lokasi persembunyian Analis, Analis gagal ditemukan oleh NICA karena dia disimpan di tumpukan padi kering di lumbung yang besar di belakang rumah Perbekel Adjhari,” tulis dr. Soegianto Sastrodiwiryo.
Namun, saat dalam persembunyian tersebut, Analis menderita sakit. Ia terkena usus buntu yang akut. Meskipun dalam kondisi sakit, Analis tidak langsung dibawa ke RSUP Buleleng, karena rumah sakit tersbut dikontrol penuh oleh tentara NICA.
Dr. Soegianto Sastrodiwiryo memperkirakan, Analis jatuh sakit setelah peristiwa penyergapan pasukan NICA oleh pemuda Buleleng dibawah pimpinan Mudana dan Anang Ramli di Kampung Bangka, Mei 1946. Analis AM Amin wafat tak lama setelah penyergapan ini.
Dan Perbekel Adjhari-lah yang berinisiatif membawa Analis yang sedang sakit ke RSUP Buleleng dengan memakai penyamaran gayot, dengan menyamarkan nama dan tempatnya. Pagi hari Adjhari baru sampai depan Gedong Kirtya mengantar Analis ke RSUP Buleleng.
Sayangnya, ketika dilakukan persiapan operasi di rumah sakit, sore harinya Analis wafat. Gugurlah pejuang muda wanita ini. Saat itu 9 Juni 1946.
Yang lebih dramatis lagi, sesaat meninggal dunia, tak seorang pun berani membawa secara terang terangan mayat pejuang wanita ini ke Kampung Lebah, tempat kediaman ayahnya, Daeng AM Amin. Atas inisiatif beberapa pejuang yang cukup berani, setelah wafat, Analis AM Amin dibawa dengan pikulan ke arah Kampung Lebah, wilayah Banjar Bali di utara dekat pantai.
“Namun para pejuang tak berani mengambil risiko, karena wilayah Kampung Lebah ini tempat para pemukiman mata-mata Belanda yang rajin melaporkan gerak-gerik gerilyawan PDRI Buleleng. Akhirnya diambil sikap membawa Analis AM Amin ke rumah orangtuanya yang kebetulan berada di ujung jalan pengkolan Kampung Kajanan,” tulis dr. Seogianto Sastrodiwiryo.
Mayat Analis, pejuang muda ini, ditinggalkan begitu saja di depan rumahnya, dan para pemuda pembawa mayat Analis langsung menghilang begitu saja untuk menghindari mata-mata yang selalu pasang kuping. Keluarga Analis juga cepat bertindak, tidak banyak bertanya. Dengan agak terburu-buru, maka saat itu juga mayat Analis ini dibawa dengan keranda ke Pemakaman Kayu Buntil Singaraja setelah juga tergesa-gesa dimandikan. Analis segera dikubur di sana.
Sebelum wafat, sewaktu ada di persembunyiannya di Desa Pegayaman, orang tua Analis sempat memintanya untuk pulang. Orang tuanya takut terjadi sesuatu dengan Analis di persembunyiannya. Pesan agar pulang tersebut dititipkan orangtuanya melalui Anang Ramli, pemuda yang juga berjuang dan keluar masuk persembunyian pejuang di Desa Pegayaman. Orangtua Analis meminta pemuda Anang Ramli untuk membawa anak gadisnya itu untuk segera diantar pulang. Namun, Analis tetap bersikukuh.
“Akan tetapi Anang Ramli yang pernah memimpin pasukan di beberapa pertempuran ini tidak berdaya menghadapi ketegaran sikap Analis yang bersikukuh untuk melanjutkan perjuangannya dan tidak mau pulang,” cerita dr. Soegianto Sastrodiwiryo.
Bahkan, konon dengan nada yang agak kesal dan sedikit marah, Analis ”mengusir” pemuda Anang Ramli karena dianggap telah mencoba mematahkan semangat juangnya. Di medan tempur, pemuda Anang Ramli tidak pernah mundur apalagi menyerah dalam menghadapi lawan. Tapi kali ini di hadapan gadis muda yang sangat energik ini, pemuda Anang Ramli tidak dapat menjalankan amanat orangtua Analis, dan ia harus mengalah dari Analis.
Pada akhirnya, Analis memang memenuhi keinginan orangtuanya untuk pulang. Akan tetapi, ia pulang sebagai pahlawan. Menjadi sosok perempuan muda yang gugur dalam medan laga. [smb]


Masyaallah luar biasa semangatnya berjuang dan hari ini masih kita saksikan hasil perjuangannya betapa Aisyiyah Buleleng terus semangat membangun memelihara hasil usahanya berupa lembaga pendidikan TK Aisyiyah